The Return of The Original Sources

shaykh_syadzili_darqawi

Sayyidi Muhammad Ibn al-Habib, Sayyidi Muhammad ‘Bel Kurshi, Sayyidi Fudul al-Huwari, Sayyidi Moulay HashimAl Belghiti Hafizahullah Continue reading The Return of The Original Sources

Advertisements

Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan

Menangis

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka, “Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya. “Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya. “Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun” Continue reading Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan

Pandangan Islam Terhadap Penyakit Dengki

Desa-dan-Penggembala_02

Dengki merupakan salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Karena dengki merujuk kepada kebencian dan kemarahan yang timbul akibat perasaan cemburu atau iri hati yang sangat besar. Dengki amat dekat dan berhubungan dengan unsur jahat, benci, fitnah dan perasaan dendam yang terpendam.

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang sakit, karena orang dengki itu merasa lebih hebat, tidak ingin kalah, ingin dianggap ataupun membesar-besarkan diri. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki). Continue reading Pandangan Islam Terhadap Penyakit Dengki

Sengkuni – Sengkuni Setiap Jaman Di Sekitar Kehidupan Kita

Sengkuni_Wayang

Mungkin sebagian besar masyarakat di tanah Jawa dan Indonesia sudah pernah mendengar tentang tokoh perwayangan yang bernama Sengkuni. Dia dikenal dengan berbagai nama seperti: Sangkuni, Haryo atau Arya Sengkuni, Haryo atau Arya Suman, Suwalaputra dan Trigantalpati. Sengkuni adalah salah satu tokoh perwayangan yang dapat dikatakan ‘istimewa’. Namun keistimewaan ini bukan dalam arti positif, namun justru negatif. Continue reading Sengkuni – Sengkuni Setiap Jaman Di Sekitar Kehidupan Kita

Peranan Alawiyin Di Nusantara

sumber: Islamhariini, The Way Of Alawiyin, Api Sejarah – AMS

Kaum Alawiyin adalah keluarga keturunan Alawi yaitu Alawi (Alwi) bin Ubaidillah bin Ahmad (Al-Muhajir) bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah ra binti Rasulullah SAW. Makna kata Alawi atau Alawiyin dalam jamaknya, memang lebih dari satu selain diatas, yakni berarti tarekat alawiyin atau pengikutnya, atau pendukung Ali bin Abi Thalib, atau keturunan Ali bin Abi Thalib. Namun berbeda makna dengan Kaum Alawi di Syiria (Suriah) karena mereka itu bermakna kaum Nushairi yang berasal dari pegunungan Alawia yang merupakan sempalan syiah ekstrem yang menyimpang dari ajaran islam bahkan tidak diakui kalangan syiah sendiri.

Tersebarnya islam tak lepas dari jasa kaum Alawiyin. Luput dari serbuan Hulagu Khan, maharaja Cina, yang menamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M), yang memang telah dikhawatirkan oleh Ahmad bin Isa, maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Talib r.a. Dalam menjalankan “tugas suci” menyebarkan islam, mengikuti Kakek mereka, Nabi Muhammad SAW, banyak dari suku Alawiyin tidak segan-segan mendiami di lembah yang tandus. Alawiyin mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi memilih mazhab Syafi’i.

Di antara mereka yang sangat terkenal ialah keturunan Abdul Malik bin Alwy bin Muhammad (Shohib Mirbath) bin Ali (Kholi Qosam) bin Alwy bin Muhammad bin Alwy bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir. Sayid Abdul Malik tersebut pergi dari Hadromaut dan menetap di India dan anak cucunya membaur dengan penduduk negeri dan menggunakan nama-nama dan gelar-gelar India. Dalam buku nasab kaum Alawiyin, mereka disebut sebagai keluarga Adzamat Khan. Diantara mereka pergi ke Asia Tenggara yang diantara anak cucunya kemudian dikenal di Indonesia sebagai Wali Songo.

Jamaluddin Husain al-Akbar adalah orang pertama dari keluarga Adzamat Khan yang datang dan menetap di Indonesia. Ia adalah putra Ahmad Jalal Syah (lahir dan wafat di India) bin Abdullah khan bin Abdul-Malik (wafat di India) bin Alwi (wafat di Tarim Hadromaut) bin Muhammad (Shahib Marbath) dan seterusnya sampai Imam al-Muhajir. Jamaluddin datang ke Indonesia dengan membawa keluarga dan sanak kerabatnya, lalu meninggalkan salah seorang putranya bernama Ibrahim Zain al-Akbar di Aceh untuk mengajarkan tentang Islam, sedangkan ia sendiri mengunjungi kerajaan Majapahit di Jawa kemudian merantau lagi ke daerah Bugis (Makassar dan Ujung pandang) dan berhasil dalam penyiaran Islam dengan damai sampai ia wafat di daerah Wajo, Makassar. Ia meninggalkan tiga orang putra, yaitu Ibrahim Zainuddin al-Akbar (yang ditinggal oleh ayahnya di Aceh), Ali Nurul Alam dan Zainal Alam Barakat.

Ibrahim Zainuddin al-Akbar (alias Ibrahim Asmoro) wafat di Tuban Jawa Timur dan meninggalkan tiga orang putra yakni: Ali Murtadha, Maulana Ishaq, (ayah dari Muhammad Ainul Yakin /Sunan Giri) dan Ahmad Rahmatulloh Sunan Ampel (ayah dari Ibrohim Sunan Bonang, Hasyim Sunan Drajat, Ahmad Husanuddin Sunan Lamingan, Zainal Abidin Sunan Demak, Jafar Shodiq Sunan Kudus).

Ali Nurul Alam putra dari Jamaluddin Husein Al Akbar, wafat di Anam (Siam) meninggalkan seorang putra yaitu Abdulloh Khan yang wafat di Kamphuchea (Kamboja). Dua orang putra Abdulloh beliau adalah Baabulloh Sultan Ternate dan Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati (ayah dari Sultan Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama). Zainal Alam Barokat, putra ketiga dari Jamaluddin Husen Al Akbar, wafat di Kampuchea atau di Cermin, meninggalkan dua orang putra yaitu Ahmad Zainal Alam dan Maulana Malik Ibrohim (wafat di Gresik).

Dari kalangan keluarga Alawiyin lainnya tercatat nama-nama para pahlawan kemerdekaan RI antara lain Pangeran Diponegoro, nama beliau adalah Mas Ontowiryo beliau lahir pada tanggal 17 Nopember 1785, ayah beliau adalah Hamengkubuwono III ( Sayyid Husein bin Alwy Baabud ). Tuanku Imam Bonjol nama beliau adalah Muhammad bin Shahab lahir pada tahun 1772 ayah beliau seorang ulama yang bernama Sayid Khatib Bajanuddin Bin Shahab.

Imam Bonjol mengadakan kotak niaga dengan Amerika Serikat. Pemerintah kolonial Belanda berupaya memutuskannya dengan cara memprovokasi pecahnya perang Padri 1821-1837. Dari kontak niaga inilah masuk koin-koin emas yang di Sumatra Barat dikenal dengan sebutan Ringgit. Seperti kita ketahui bahwa Imam Bonjol bergaris darah dengan Kesultanan Pagaruyung yang terkait dengan Adityawarman.

Ulama-Ulama di Nusantara dan juga alam Minangkabau (Kesultanan Pagaruyung) dalam melakukan perjalanannya berdawah juga memegang dua hal dalam kesehariannya yaitu Dien Islam dan Perniagaan.
—————————————————————-

Wasiat Sulthanul Auliya’ Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily: “Aku bertanya kepada guruku tentang sabda Nabi SAW: “Buatlah mudah dan jangan berbuat kesulitan, tebarkan kegembiraan dan janganlah membuat mereka terusir…” Beliau menjawab, “Tunjukkanlah mereka kepada Allah dan janganlah engkau tunjukkan mereka kepada selain Allah. Orang yang menunjukkan jalan kepada dunia, maka dunia akan menggulung anda. Orang yang menunjukkan jalan amal, maka amal itu akan membuat anda terbebani. Dan orang yang menujukkan anda kepada Allah, maka benar-benar menjadi penasehat anda.”