Sengkuni – Sengkuni Setiap Jaman Di Sekitar Kehidupan Kita

Sengkuni_Wayang

Mungkin sebagian besar masyarakat di tanah Jawa dan Indonesia sudah pernah mendengar tentang tokoh perwayangan yang bernama Sengkuni. Dia dikenal dengan berbagai nama seperti: Sangkuni, Haryo atau Arya Sengkuni, Haryo atau Arya Suman, Suwalaputra dan Trigantalpati. Sengkuni adalah salah satu tokoh perwayangan yang dapat dikatakan ‘istimewa’. Namun keistimewaan ini bukan dalam arti positif, namun justru negatif.

Sengkuni adalah personafikasi manusia yang penuh kelicikan, kebusukan dan kejahatan. Dia merupakan penggambaran seorang tokoh antagonis sejati. Walau sebenarnya dia sangat tangkas, pandai bicara dan banyak akal, namun kelebihannya itu dimanfaatkannya untuk memfitnah, menghasut dan mencelakakan orang lain. Karena dalam diri Sengkuni sarat dengan keburukan, maka semua orang akan menolak jika dianggap memiliki watak atau sifat seperti Sengkuni.

Kita tentu tidak ingin dikatakan sebagai Sengkuni ataupun membiarkan diri kita terjangkit penyakit tersebut, marilah kita melihat ke dalam diri kita terlebih dahulu. Apakah kita yakin bahwa diri kita benar-benar bebas dari sifat maupun watak buruk Sengkuni? Mari kita melihat dalam diri kita masing-masing.

Apakah kita termasuk orang-orang yang munafik dan suka menjilat di hadapan para manusia atau penguasa? Apakah diam-diam ataupun terang-terangan kita suka merasa dengki dan iri hati atas keberhasilan dan kebahagiaan orang lain? Apakah kita akan melakukan segala cara demi keuntungan diri kita pribadi meskipun untuk itu kita harus mengorbankan orang lain? Apakah kita suka mencari-cari keburukan dan kelemahan orang lain dan menyebarkannya? Jika ternyata jawaban pertanyaan-pertanyaan itu adalah “ya” berarti sifat dan watak Sengkuni ada juga dalam diri kita juga. Jika ternyata jawabannya adalah “tidak” maka kita patut berlega hati karena kita terbebas dari sifat dan watak buruk Sengkuni. Mari kita lihat orang-orang di sekitar kita. Ternyata, watak dan sifat Sengkuni tersebar pada beberapa orang yang kita temui. Tapi tentu saja orang-orang itu hanya mempunyai sedikit dari sedemikian banyak watak dan sifat buruk Sengkuni. Mungkin hanya Sengkuni saja yang mempunyai watak dan sifat buruk yang demikian sempurna karena terkumpul pada satu sosok saja.

Sudah menjadi hal biasa jika kita melihat orang-orang yang serakah dan suka mengorbankan orang lain tanpa punya malu (kepada Allah). Sudah sering kita mendengar fitnah disebarkan untuk menjatuhkan orang lain dengan berbagai dalih, sudah sering terjadi hasutan yang pada akhirnya membuat kehidupan orang lain sengsara. Sudah banyak terjadi orang-orang yang karena sedemikian dengkinya menjadi tega ‘menghabisi’ orang lain, walaupun mulutnya sering mengucapkan Allah. Sudah menjadi hal biasa ketika seseorang begitu penuh ambisi dan menyingkirkan orang-orang yang merintanginya.

Penyakit ghibah pernah menjangkiti Aisyah, istri Rasulullah shallallahi ‘alaihi wasallam Aisyah sang istri Rasulullah shallallahi ‘alaihi wasallam pernah lalai melakukan hal Ghibah dan Rasulullah shallallahi ‘alaihi wasallam sempat marah padanya dan langsung memperingatkan sang Istri. Tatkala itu, Aisyah berkata kepada Nabi shallallahi ‘alaihi wasallam: “Cukuplah bagimu Shafiyah (cukup cela untukmu Shafiyah yang bertubuh pendek).” Dengan nada keras beliau menjawab: “Sesungguhnya engkau telah mengeluarkan satu kalimat yang amat keji, andaikan dicampur dengan air laut niscaya dapat merusaknya.” Dan pada kesempatan lain, Aisyah juga berkata: “Saya mencontohkan kejelekan orang kepada Nabi sshallallahi ‘alaihi wasallam” Maka Nabi bersabda: “Saya tidak suka mencontohkan (memperagakan keburukan) orang meskipun saya akan mendapat upah ini dan itu yang banyak.” (HR.Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Aisyah).

Dosa ghibah juga lebih besar daripada berbuat zina. “Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Ditanya, bagaimanakah? Jawabnya, “Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya.” (HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)

Tahukah engkau siapakah orang-orang bangkrut itu?, mereka adalah umatku yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu telah menghilangkan perbuatannya. Kemudian ia ditenggelamkan keneraka jahanam (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)

Artinya: “Barangsiapa mengintai-intai keburukan saudaranya semuslim, maka Allah akan mengintaiintai keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah, maka Allah akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam (tengah-tengah) rumahnya”. (H.R. Ahmad)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Hujurat 49 : 12)

Tidak akan masuk surga orang yang menghambur-hamburkan fitnah (suka mengadu domba).(HR Abu Dawud dan At-Thurmudzi)

Ghibah juga sama dengan riba, bahkan lebih berat lagi dosanya. Sebagaimana Abu Ya’la meriwayatkan, Bahwa Rasulullah shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda:”Tahukah kamu seberat berat riba di sisi Allah?” Jawab sahabat: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahi ‘alaihi wasallam bersabda: “Seberat-berat riba di sisi Allah ialah menganggap halal mengumpat kehormatan seorang muslim.”

Kemudian Nabi shallallahi ‘alaihi wasallam membaca ayat yang artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (As-Silsilah As- Shahihah, 1871)

Jadi, dalam hidup ini memang selalu ada orang-orang yang berwatak Sengkuni. Watak Sengkuni ini dapat terjadi kepada siapapun, tidak perduli apapun agamanya, yang biasanya dapat dibungkus dengan agama, gelar, keturunan dan berbagai ilusi, saya ini dan itu, saya belajar dengan guru ini dan itu, tapi Sengkuni tetap bersamanya. Dengan adanya kesadaran seperti itu, setidaknya kita dapat lebih waspada dan hati-hati. Jangan sampai kita termakan fitnah dan hasutan yang disebarkannya. Jangan sampai kita ikut arus dalam gelombang kebencian yang dibawanya.

Dengan tetap berpegang pada ketulusan dan kebenaran, kita mohon bantuan kepada Allah agar terhindar dari Sengkuni yang ada dalam diri dan semoga Allah membantu anda menghadapi penyakit yang disebarkan oleh Sengkuni-Sengkuni di sekitar kehidupan ini. Insya Allah.  #Ihsan #IndoensiaHapusRiba #IslamTanpaRiba

Published by

Ali

All you need is love

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s