Kebohongan Dan Fitnah Atas Tulisan Awas Dinar Dan Dirham Ilegal

Gold-Coins
Dinar 4.44 gram (9999) atau 1/7 troy ounce pada prinsipnya adalah emas murni, yang tentu dapat berlaku internasional dalam jual beli, seperti halnya koin emas dunia American Gold Eagle.

Bismillahirrahmanirrahim, tulisan ini merupakan klarifikasi yang sudah saatnya dikeluarkan oleh IMN mengenai kebohongan dan fitnah yang selama ini dilakukan sekelompok orang yang menyebut dirinya Wakala Induk Nusantara (WIN) ataupun WIM/WITO. Tulisan murahan berjudul Awas Dinar Dan Dirham Ilegal jelas tidak memiliki dasar fikih dan syariah, bahkan sebaliknya bertentangan dengan maqasid syar’i , sehingga bukan saja tertolak bahkan dikembalikan kepada para penyeru ilegal, bahwa kemungkinan merekalah yang ilegal. Istilah ilegal artinya tidak legal, tidak memiliki landasan hukum. Dalam Islam landasan hukum yang dimaksud disini adalah Al Quran dan Sunnah, dan daripadanya diambil dalil-dalil syar’i.

Sepanjang penelitian yang telah dilakukan oleh IMN dan beberapa pihak yang paham, ditemukan fakta sejarah bahwa dinar yang dikeluarkan dengan berat 4.25 gram adalah dinar yang didevaluasi oleh khalifah yang berbeda dengan Sayyidina Umar ibn Khattab yang menetapkan standar dinar sesuai dengan sunnah yaitu 1 mitsqal yang setara 72 biji gandum (barley) ukuran sedang yang dipotong kedua belah ujungnya. Dengan mengatakan tidak bisa menimbang biji gandum, sementara pihak yang mengambil dinar khalifah yang terdevaluasi atas alasan kehati-hatian yang justru sama sekali tidak hati-hati. Dan dengan mengatakan Dinar 22 karat lebih tahan lama, tanpa alasan fikih dan tanpa dalil dari nash Al Quran maupun Hadits, berijtihad tanpa kapasitas sebagai mujtahid, dan seratus persen alasan teknis penyetakan koin, sudah mengikuti sebuah riba yang disebut debasement, yaitu mengurangi kadar dinar untuk kepentingan sesaat. Demikianlah tertolak semua alasan dan dengan dalil bahwa kemungkinan besar merekalah yang ilegal.

Tulisan Awas Dinar Dan Dirham Ilegal yang memang sengaja diangkat oleh WIN (tentu atas pengetahuan direktur WIN) dengan tujuan dan skenario tertentu, sehingga menciptakan persepsi negatif di masyarakat agar menjadi antipati dan menimbulkan prasangka terhadap IMN dan orang lain, jelas tindakan menyebarkan fitnah dan kebohongan bukan bagian dari akhlak seorang muslim, dan ini sudah menjadi penyakit menular dari kelompok ini, yang digunakan terhadap orang yang tidak setuju dengan mereka, keyakinan mereka adalah if you are not with me you are against me. Tentu agar tangan direktur WIN ini tidak kotor maka digunakanlah orang bernama Sufyan Al Jawi atau Samijan yang menuliskan hal tersebut, dan jelas tulisan itu telah dibaca banyak orang dan menimbulkan fitnah yang dahsyat.

Hal yang perlu kita perhatikan terhadap kelompok ini dalam menjalankan kegiatan misi ‘suci’ mereka tersebut, diikuti dengan beberapa doktrin dan modus operandi yang digunakan terhadap muslim atau publik yang baru mengenal dinar dan dirham dimanapun, antara lain:

1. Mengatakan bahwa WIM sebagai otoritas dinar dan dirham
2. Standar WIM/WITO adalah standar internasional, yang lain tidak
3. Hanya dinar dan dirham yang di otorisasi WIM/WIN adalah legal dan yang lain ilegal

Dalam kesempatan ini kami ingin sampaikan kepada masyarakat dan muslim dimanapun bahwa WIM/WITO bukanlah otoritas dari dinar dan dirham atau otoritas atas umat muslim, klaim otoritas ini adalah modus operandi yang diperlukan untuk menggiring publik kepada konsekuensi kedua yang menjadi tujuannya, agar hanya dinar dan dirham WIN atau WIM yang legal sedangkan yang lain ilegal, dan klaim ini tidak memiliki dasar fikih maupun syariah. Sedangkan kita tahu klaim sebagian orang sebagai otoritas yang tidak memiliki rujukan, historis atau dasar fikih maupun syariah dan dengan demikian tertolak. Yang demikian hanyalah berlaku bagi mereka yang mengambil sebagian orang sebagai pemimpin dan tidak sebagian yang lain, sehingga tidak berlaku umum, tapi berlaku terbatas.

Mengenai cerita fiksi dalih sebagai otoritas dan bahwa dinar dan dirham legal dan di otoritasi oleh WIM/WITO ini juga sebelumnya terjadi di Kelantan, Malaysia pada tahun 2010. Dan hal otoritas dan otorisasi ini tentu ditolak oleh banyak pihak di Malaysia yang paham akan hal ini. Modus operandi awal dari dalih otoritas ini  adalah menggunakan lambang negara bagian (Kesultanan) Kelantan pada koin dinar dan dirham, tapi dengan ijin Allah gagal total karena salah satunya pada tahun 2012 malah terbongkar skandal penipuan dan penggelapan emas atas seorang warga jepang yang dilakukan oleh oknum berkebangsaan Spanyol (WIM/WITO) dan akhirnya orang spanyol itu melarikan diri ke Pakistan.

Masih dengan dalih otoritas dan di otoritasasi WIM/WITO melalui KGT mereka meminta lisensi 1% dari setiap dinar dan dirham yang dicetak, menerapkan premium cetak yang tinggi terhadap setiap dinar dan dirham yang dijual (tentu dengan atas nama agama) dan mengatakan juga dinar dan dirham lain adalah ilegal, dinar dan dirham Kelantan tersebut di impor dari Dubai dan ternyata akhirnya salah satu petinggi WIM/WITO/KGT itu mengaku dinar dan dirham ini untuk tujuan bisnis alias mencari untung, ini adalah kapitalisasi dinar dan dirham dalam bentuk lain, legal? Di Indonesia modus operandi dengan dalih otoritas ini juga terjadi diIndonesia dari kelompok yang sama dengan di Kelantan, Malaysia. Silahkan baca juga tulisan Saatnya Hijrah Dari Dinar Tidak Murni, Nilai Tukar Dan Perihal Buyback

Panggilan untuk umat agar menegakkan otoritas kepada yang berhak, yaitu para pemimpin umat, para ulama, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, “ulama adalah pewaris para Nabi”. Tegakkan pemerintahan yaitu khalifah yang tegak atas jalan kenabian. Jika itu belum tegak, ambillah pemimpin di antara kalian dari kalangan ulama, dan tidak ada kewajiban untuk mengikuti satu kelompok, apalagi ada kemungkinan kesesatan dalam kelompok tersebut.

Pada tahun 2005, seseorang pernah bertanya langsung kepada Umar Vadillo secara langsung, kalau memang itu penelitian kamu, dimana hasil berkas penelitian mithqal tersebut? Apakah bisa saya lihat? dan ternyata orang sering menggunakan gelar Profesor palsu ini, tidak dapat menjawab pertanyaan itu dan berlalu. Dari hasil penelitian IMN dan beberapa kolega di beberapa negara, dikemudian hari diketahui bahwa asal mula mitsqal 4.25 gram (9999) berasal dari penetapan ulama kontemporer, yang menyamakan dinar dan dirham dengan uang kertas, standar 4.25 gram (9999) dari ulama kontemporer ini digunakan untuk mengakomodasi fikih zakat profesi (yang baru ada dalam Islam), ketetapan ulama kontemporer ini banyak menjadi rujukan dari buku ekonomi Islam dan perbankan Islam atau sebagai catatan kaki buku.

Jadi tidak pada tempatnya, keliru paham dan salah alamat jika WIN/WIM mengatakan yang lain dinar ilegal, bughat bahkan mentafkirkan salah seorang muslim tanpa dasar syar’i dengan membuat analogi atas Imam Husayn alaihis salam sebagai orang yang mati dalam keadaan bersalah karena menolak otoritas saat itu. Bahkan mungkin yang ilegal sebenarnya adalah WIN/WIM tanpa adab dan kemaluan menggunakan suatu hal tanpa ijin tertulis dari pihak yang menetapkan standar tersebut.

Sampai disini sudah bisa dilihat bahwa tidaklah benar dan sepenuhnya bohong bahwa standar 4.25 diklaim sebagai standar WIM/WITO, dan kedua lembaga ini tidak seperti yang anda bayangkan. Jadi sekali lagi mereka bukan pencetak, bukan pula otoritas seperti apa yang telah dijelaskan di atas dan juga bukan yang mengerjakan standar 4.25 gram, itulah fatamorgana dari WIM/WITO dan boneka disekililingnya , karena itu cerita fiksi dinar dan dirham ilegal, dalih standar, dalih internasional, dalih otoritas atau diotorisasi menjadi penting ditanamkan oleh mereka kepada publik untuk mengamankan bisnis koin dengan cara yang kotor ini, yaitu fitnah dan kebohongan.

Dengan penjelasan singkat ini muslim dimanapun perlu paham bahwa ‘standar’ 4.25 gram (91.6) dari WIM/WIN ini adalah cacat fikih berat dan kadar, karena tidak memenuhi nishab fikih zakat maal, yaitu sebesar 85 gram emas murni, tanya kenapa? silahkan baca Kembalinya Dinar Murni, Penjelasan Nishab Zakat Mal Dan Mithqal

Dinar dan dirham yang dicetak di Indonesia tahun 2000 di desain pertamakali oleh IMN dikerjakan oleh Ahmad I. Adjie dan Abbas Firman kemudian sebagai pencetakan mandiri dilanjutkan oleh Abbas Firman dan dibantu oleh muslim yang terpanggil untuk berjuang fisabilillah akan hal ini. Desain koin masjid Nabawi dan Kabah diperkenalkan dan menjadi populer setelah dicetak secara masal oleh IMN pada tahun 2000, semua berkas dan data dan proses pengerjaan desain masih tersimpan dengan rapi. Desain dinar dan dirham tersebut dibuat dan dicetak memang disepakati diantara kami saat itu, tentu dalam hal ini WITO (WIM baru ada sekitar tahun 2011) sebagai lembaga fiktif menjadi terbantu dari awal kerja keras Ahmad Adjie dan Abbas Firman atas desain tersebut dan penyebaran model muamalah yang dibuat saat itu sesuai untuk Indonesia. Jadi tulisan Sufyan Al Jawi atau WIN ini jelas menyesatkan publik dan secara sengaja memutar balikan fakta bahwa IMN meniru desain WIN, padahal yang terjadi adalah WIN menjiplak secara persis desain yang dibuat oleh IMN sejak awal tahun 2000.

Dari pelaku sejarah awal dinar dan dirham di Indonesia dikathui bahwa model dan sistem wakala didesain dan dikembangkan oleh Ahmad I. Adjie dan Abbas Firman. Fakta yang benar mengenai WIN adalah di dibentuk oleh Abbas Firman pada tahun 2006 dan tidak pernah di amanahkan baik lisan dan tulisan dari WIM/WITO kepada pendiri WIN awal, sedangkan apa yang ditulis Sufyan Al Jawi adalah pemutar balikan fakta dengan mengatakan seolah itu amanah dari WIM/WITO, itu tidak ada. IMN dibentuk tahun 2000, lalu dilanjutkan dengan mulai merintis pencetakan mandiri oleh Abbas Firman tahun 2005.

Semua orang waras tahu bahwa emas dan perak berlaku umum dimanapun di dunia yang dinilai dari berat dan kadar dan tidak dilihat apakah itu berbentuk batangan ataupun koin ataupun dinar dan dirham, jadi keliru paham jika dalam hal ini ada yang membedakan dinar dan dirham dari label dan pencetak sehingg tidak bisa saling bertukar dalam muamalah. Untuk hal ini apa yang disebut sebagai standar internasional berlaku umum dan mudah dikenali adalah yang pertama standar emas murni (9999), sedangkan standar emas tidak murni (campuran) biasanya digunakan dalam praktek dunia perhiasan, koin hobi dan koin koleksi, alasannya biasanya agar keras. Mengenai dinar dan dirham ataupun koin emas emas dan perak lain berlaku umum silahkan baca juga tulisan fakta sejarah berjudul Muslim Nusantara, Walisongo Dan Kesultanan Turki Ottoman

Akhir kata sebagai solusi dan pembelajaran bagi kita semua, agar masyarakat tidak digiring kepada opini dan informasi yang keliru dalam hal tatacara penggunaan dinar dan dirham dengan segala kaitannya, maka kami memberikan  sebuah buku catatan dinar dan dirham 2000-2013, sebuah petunjuk umum untuk penggunaan praktis dinar dan dirham bagi muslim dan umum, silahkan download Buku Catatan Dan Petunjuk Umum Dinar Dan Dirham Nabawi.

Demikianlah penjelasan ini, kami mohon maaf jika sekiranya tulisan ini masih banyak kekurangan di sana-sini, semoga bermanfaat untuk kita semua. Mari kita kembalikan kemurniaan Islam tanpa riba.

Ma’asalama.

Sumber: Abbas Firman (Indonesia) , Ahmad I. Adjie (Indonesia), Norbaini Hassan (Malaysia), Nik Mahani (Malaysia), Prof Tariq Khan (Capetown, Afrika Selatan) dan Shaykh Faroji Azmath Khan sebagai Mufti Kesultanan Palembang (Indonesia)

Published by

Ali

All you need is love

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s