Penjelasan Tentang Mengapa Dinar Adalah 24 Karat Bukan 22 Karat Dari Abbas Firman

choose-dinar

Bismillahirrahmanirrahim, Pada awal tahun 2010 IMN menerbitkan sebuah fatwa penting tentang mitsqal terkait timbangan berat dan kadar dinar dan dirham. Fatwa tersebut awalnya adalah sebuah otokritik yang ditujukan kepada IMN sendiri yang menyadari bahwa ada hal yang perlu dikoreksi dengan apa yang disebut standar dinar Islam sebagaimana mestinya menurut fikih dan tradisi awal Islam .

Fatwa IMN tersebut telah di dokumentasi dalam sebuah penjelasan mendasar yang ditinjau dari berbagai sudut penelitian sejarah, fikih, hadist, ijma, tafsir, penimbangan, arkeologis, ulama dan ahli metalurgi. Dokumen tersebut telah menjadi bagian dari sejarah pejalanan dinar dan dirham yang akan menjadi sumber pengetahuan bagi publik, silahkan baca penjelasan kami di sini Standar Dinar Dan Dirham Dalam Sejarah Dan Fikih Islam  dan kami terbuka untuk berkomunikasi akan hal ini agar menjadi lebih baik dan berguna bagi kepentingan muslim dimanapun. Penjelasan resmi saya ini adalah tanggapan terbuka setelah lima tahun fatwa tersebut dikeluarkan, berjalan dan berkembang, maka sekarang saatnya saya perlu meluruskan hal ini kepada publik tentang pendapat seorang penggiat dinar dan dirham yang tidak sepenuhnya benar.

Pendapat ini datang dari orang yang bernama Umar  Vadillo yang mengatakan bahwa dinar 24 karat atau koin emas murni hanya berumur 3 tahun, ini merupakan spekulasi. Diketahui dari bukti arkeologis berbagai koin emas murni yang ditemukan dapat bertahan selama 700 tahun peradaban manusia, dan tidak ada keluhan tentang hal kelembutan emas murni itu, salah satu bukti adalah ditemukan koin emas murni di masa Byzantium. Kembalinya dinar dan dirham murni juga terkait erat dengan pelaksanaan fikih zakat maal, Kembalinya Dinar Murni, Penjelasan Nishab Zakat Mal Dan Mithqal

Fatwa yang dikeluarkan oleh IMN tentu berdasarkan pertimbangan Ulama (fakih) yang memahami hal ini, ahli cetak dan ahli metalurgi sehingga sampai pada kenyataan dinar adalah emas murni dan dinar 24 karat dapat digunakan, dinar tidak murni oleh Imam Syafi’i disebut nuqud. Dari sisi amal dan kepraktisan tentu Allah yang menciptakan emas murni itu lembut sebagai sifat alami dan sebuah perlindungan dari pemalsuan. Dari penjelasan hadist atau tafsir al quran diketahui bahwa ilmu dan praktek teknologi pemurniaan emas pada masa dahulu telah dilakukan dengan baik. Dan hari ini teknik dasar yang sama digunakan juga dengan baik oleh pandai emas ataupun lembaga pencetakan emas, sehingga menghasilkan emas murni untuk dicetak kepada koin emas atau dinar. Tentang praktek (amal) kemurnian emas, dalam Islam ada sebuah istilah spesifik dikenal dengan sebutan mitsqal digunakan untuk timbangan khusus emas murni dan timbang untuk perak disebut dirham (7/10 mitsqal).

Dinar dan dirham telah digunakan sejak masa Nabi Adam alaihis salam, kemudian pada periode Nabi Idris alaihis salam (Hermes), dilanjutkan ke periode Nabi Nuh, ke periode Hud, ke periode Nabi Sholih, ke periode Nabi Dzulqarnain, ke periode Ashabulkahfi, ke periode Nabi Ibrahim, ke periode Nabi Luth, ke periode Nabi Isma’il dan ke periode Nabi Ishaq dan seterusnya dimana ukurannya sama, ini diketahui dari sanad pencetakan dan mitsqal yang kami terima dari Walisongo, silahkan dibaca Pentingnya Sanad Dan Pencetakan Dinar Dan Dirham Di Masa Rasulullah, tanpa sanad orang akan berbicara semaunya, berspekulasi adalah cara orang bodoh. Keimanan kepada para nabi-nabi dan apa yang dibawanya ini adalah bagian dari rukun Iman, tauhid murni kita, menolaknya adalah kefasikan. Dan tentu ilmu tentang logam dan pemurniaan ini sangat mudah bagi para Nabi dan terus bersambung hingga masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Penjelasan di atas tentu berbeda dengan pendapat kedua ini dari Vadillo yang mengatakan bahwa dulu pada masa awal Islam belum ada teknologi pemurnian 24K, spekulasi inilah yang menjadi dasar argumentasi bahwa dinar 4.25 gram 22 karat sebagai ‘standar’ WIM, konsekuensi logis dari pendapat pribadi orang ini adalah secara tidak langsung ‘standar’ WIM ini mengikuti praktek umum jual-beli emas 22 karat dari pedagang emas perhiasan. Disisi lain Vadillo dengan cara berpikir praktis dan pragmatis, menjadikan koin Abdul Malik Bin Marwan sebagai dalih atas berat ‘standar’ WIM, dan tentu secara alamiah dia akan mengatakan berat itu tidak dapat dirubah, karena kalau dirubah gugurlah semua paradigma yang dia bangun selama ini. Jadi kemampuan pemurniaan saat itu sama baiknya dengan hari ini dan tentu dengan niat membuat dinar yang semurni mungkin, kita dapat temukan di Islam awal koin dinar dari dinasti Fatimid mencapai 98% kemurniaanya.

Melalui ijasah nasab pencetakan dan riwayat mitsqal tersebut diketahui bahwa mitsqal dari Abdul Malik bin Marwan adalah sama dengan masa awal Islam, diketahui dari bukti arkeologi dinar Abdul Malik Bin Marwan dengan mitsqal 4.4 gram berada di Museum Inggris.

Ironisnya dikemudian hari kami dapati bahwa apa yang disebut ‘standar’ 4.25 gram oleh WIM atau Vadillo ini bukan datang dari orang tersebut, sedangkan hasil penelitian langsung dari ratusan koin dinar dan dirham dari tahun yang berbeda dari Abdul Malik Bin Marwan telah dilakukan oleh pakar koin ANS Michael L. Bates yang menyatakan sebaliknya, tidak ditemukan secara tepat mitsqal 4,25 gram koin Umayyah masa Abdul Malik Bin Marwan yang mengikuti ketetapan wazan sab’ah atau 7/10, detail lebih lanjut silahkan di baca disini Memahami Mithqal Dalam Fikih Kontemporer Zakat Emas Dan Perak.

Apa yang diperintahkan Allah dan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam terkait zakat maal adalah menjadi dasar amal kita semua dalam mencetak dan menjaga mitsqal untuk timbangan berat dan kadar dari dinar dan dirham, bukan semata kepraktisan, dari situ kita menemukan berbagai hal yang menuntun kita kepada orisinalitas, karena tidak mungkin Allah memerintahkan urusan dien yang tidak mungkin dilaksanakan.

Dinar dipandang dari sisi kadarnya, atau takarannya, dapat dibagi menjadi dua yaitu yang mitsqali yaitu kadar kemurnian terbaik dari dinar dan ghoyru mitsqali yang kemurniannya kurang dari standar terbaik, karena memang sengaja dicampur untuk keperluan tertentu, misalnya perhiasan dan lain lain. Takaran berbicara mengenai volume atau kepadatan atau berat jenis bahan logam, yang menentukan isi atau konten atau muatan dari logam tersebut. Jadi meskipun suatu dinar telah memenuhi kaidah berat (timbangan) haruslah memperhatikan kaidah kemurnian (takaran) dari dinar tersebut.

Mengenai ketahanan dinar 24 karat yang dipersoalkan oleh orang tersebut, sebetulnya ini adalah pertanyaan balik untuk Vadillo dan beberapa bonekanya tentang apa yang dia disebut sebagai ‘standar’ WIM, menurut Vadillo atau WIM toleransi berat dinar tidak lagi menjadi 1 dinar jika berkurang 1% yaitu apa bila berat dinar jatuh di bawah 4.20 gram, maka yang kita lihat dari berat dinar 4.25 gram (916) ‘standar’ WIM sudah jatuh di bawah 4.20 gram, yaitu 3.89 gram emas murni (campuran tidak dihitung, dalam fikih zakat emas), artinya ini sudah tidak bisa dikatakan sebagai dinar, secara fikih zakat kontemporer tidak tercapai nishab, yaitu 85 gram emas murni (nishab terkecil). Pertanyaannya berikutnya jika WIM mengaku sebagai ‘otoritas’ standar dan dikemudian hari Vadillo atau WIM mendapat hidayah untuk merubah kadar dinar lebih tinggi atau sesuai yang digariskan oleh IMN, maka Vadillo atau WIM seharusnya bertanggung jawab untuk menarik dinar 4.25 gram (91.6) dari Kelantan, Malaysia atau dinar ‘standar’ WIM di Indonesia yang sudah cacat fikih sejak awal dicetak. Bukankah ini juga adalah bagian tanggung jawab terhadap kepentingan umum?

IMN sebagai pencetakan mandiri dan metalurgi, sudah mempunyai teknologi untuk membuat daya tahan koin dinar murni kuat tanpa mengurangi kemurniaan dengan cara yang sederhana dan ramah lingkungan, dan dari sisi fikihpun itu mempunyai landasan yang kuat dan bisa dipertanggung jawabkan, itu hal yang mudah bagi kami untuk melakukannya. Sebaiknya Vadillo dan kumpulannya tidak perlu mengurusi pencetakan karena bukan bidangnya. Kami sebagai pencetakan telah mempelajari berbagai teknik dan hal tersebut, kedepannya siap menerapkannya dengan teknologi terkini, memberikan keseimbangan yang baik antara kemurniaan dan kekuatan orisinil dari emas murni tersebut. Sedangkan sekelompok ulama (fakih) perlu disiapkan dan yang ulama sesungguhnya tidak berdiri di atas kepentingan kelompok, serahkan saja urusan pencetakan kepada ahlinya.

Kembalinya dinar dan dirham, memerlukan barisan yang teratur dan saling mengisi, salah satunya ada pencetakan dengan ongkos yang efisien bahkan kalau bisa rendah, tidak perlu lisensi, dan tidak membuat diskriminasi koin dengan alasan di luar fikih Islam. WIM dalam hal ini sudah jelas bukan otoritas standar, dan juga bukan juga ahli pencetakan. Untuk hal tersebut saya rasa sudah sepatutnya Vadillo dan teman-teman itu mengurusi hal lain saja selain pencetakan koin. Sebagai teman lama yang bersama meperjuangkan dinar dan dirham sejak awal, saya sarankan Vadillo untuk mendalami lagi ushul fikih, bahasa arab dan mempraktekan adab sesama muslim, karena urusan thariqah adalah adab, baru ilmu.

Untuk menerapkan teknologi super alloy diperlukan persiapan matang dan otoritas yang perlu hadir adalah Sultan yang kuat lahir batin untuk mengatur hal ini agar segera berjalan dalam kondisi sebagaimana mestinya. Saya setuju tentang otoritas tunggal dalam hak untuk mengatur dan memayungi berbagai urusan Islam, salah satunya adalah pencetakan, wakaf, baitulmal, peradilan dan sebagainya, otoritas itu seharusnya dipegang oleh Sultan yang berdaulat, memiliki wilayah yang jelas, sumber alam, kekayaan, dukungan ulama dan mempunyai silsilah keturunan yang juga benar (murni) yang diakui oleh ahli nasab. Jadi otoritas tersebut saya rasa bukan WIM dan beberapa boneka yang kadang bertingkah lucu. Kalau anda bisa tunjukan siapa Sultan yang memenuhi syarat seperti yang saya sebutkan di atas baik di Indonesia, Brunei, Singapore, Malaysia, India, Pakistan ataupun Spanyol dengan kriteria di atas silahkan hubungi saya atau IMN.

Saat ini dinar 4.44 gram (9999) telah beredar karena memang sudah seharusnya begitu, kewajiban kita muslim Nusantara adalah mendukung pencetakan mandiri Islamic Mint Nusantara dengan wakaf dan berbagai bantuan agar kami tetap dapat melaksanakan fungsi pencetakan dan perawatan yang selama ini sudah berjalan. Karena itu koin yang nanti rusak, berkurang berat dan aus ditarik lalu dilebur kembali, kemudian dicetak menjadi koin baru. Jadi kamu tidak perlu menjadi makelar koin yang dicetak di Dubai ataupun Khazakstan. Saya harap hal yang dilakukan Vadillo dan WIM seperti yang telah terjadi di Indonesia dan Malaysia tidak terjadi dengan muslim di Pakistan.

Mengenai hal pemalsuan koin, teknik cetak, fitur keamanan dan teknologi cetak secara umum sudah dapat dilakukan lebih baik hari ini, tapi bukan dengan hologram. Berdasarkan penjelasan praktisi cetak koin di IMN yang mempunyai pengalaman dan beberapa orang pencetak terbaik dari beberapa generasi menyatakan bahwa hologram bukanlah bagian dari perlindungan terbaik untuk pemalsuan koin, hologram dalam dunia koin adalah untuk hiasan (fancy) bagi koin koleksi ataupun medali. Hologram hanya akan menambah biaya cetak yang akan ditanggung pengguna dan dalam waktu singkat warnanya akan hilang jika digunakan dalam koin sirkulasi. Jadi dengan cara sederhanapun teknik perlindungan terbaik terhadap pemalsuan koin telah dipraktekan secara umum dan khusus yang tidak perlu terlihatpun sudah umum dipraktekan, dan hal ini hanya diketahui oleh pencetak dan ahli metalurgi IMN.

Fatwa IMN secara mendasar ditulis dalam kaidah dan dalil fikih yang jelas di ikuti penjelasan dari berbagai sudut terhadap dinar dan dirham Islam, fakta otentik yang diteliti langsung ataupun tidak langsung telah dipaparkan, juga secara umum dapat diterima dengan baik dan dalam kepraktisan satuan timbangan hari ini gram ataupun troy ounce juga berlaku umum. Ini sebuah pilihan bagi kepentingan umum.

Saya dapat memahami ketidaksepakatan Umar Vadillo terhadap Fatwa penting IMN dan dia menanggapi sebagai pendapat pribadi, dan bagi kami pendapat pribadi Vadillo memang juga bukan bagian dari Hukum Islam, sedangkan argumentasinya juga tidak memadai untuk menjawab fatwa IMN sebagaiman mestinya. IMN dan muslimpun tidak perlu persetujuan WIM atau Vadillo atau bonekanya di Indonesia. Itu sudah cukup jelas.

Kesimpulan yang saya berdasarkan pengalaman sejak awal urusan  selama empat belas tahun terkahir terkait pencetakan dan perkembangan dinar dan dirham adalah :

  1. Apa yang disebut standar 4,25 gram (91.6) dari WIM dan Umar Vadillo tidak pernah diteliti langsung dan itu hanya diklaim sebagai ‘standar’ mereka . Sedangkan penetapan standar 4.25 gram (9999) itu adalah didasarkan pada fikih zakat kontemporer dimana ulama modern menyamakan dinar dan dirham kepada uang kertas dan ini menjadi rujukan perbankan syariah dan ekonomi syariah maka diambil nishab terkecil yaitu 85 gram emas murni.
  2. Dalam kesempatan ini kami ingin mengingatkan kembali kepada masyarakat muslim di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore dan Pakistan bahwa dinar 4.25 gram 22 karat ‘standar’ WIM itu cacat fikih secara berat dan kadar, tidak tercapai nishab 85 gram emas murni dari apa yang ditetapkan dari fikih zakat kontemporer. Dan tentu kita tidak bisa merubah nishab zakat emas sebesar 20 mitsqal emas murni dan zakat perak sebesar 200 dirham perak murni.
  3. Dinar atau mitsqal murni bukanlah hal yang baru, secara faktual koin emas murni atau dinar adalah pilihan terbaik, seperti telah dijelaskan di atas tidak mempunyai masalah dengan ketahanan. Dalam hal kepentingan umum, saat ini dan yang akan datang bahwa dinar 24 karat (premium rendah) jelas lebih mudah dicairkan (buyback) dimanapun, karena harga emas murni relatif lebih sama dimanapun, standar mitsqal yang telah ditetapkan IMN berlaku umum dan setara dengan satun gram dan troy ounce sehingga dapat memudahkan muamalah ( jual-beli) atau pertukaran dinar dengan koin emas diluar Islam.
  4. Masyarakat mempunyai pilihan yang lebih baik dengan hadirnya Dinar 4.44 gram (9999), kelembutan emas murni itu adalah sebuah standar praktis dan perlindungan alami dari pemalsuan yang diberikan oleh Allah kepada emas dan perak sebagai pengukur nilai, bukan kepada logam lain.
  5. Yang terpenting dari semua alasan yang menjadi dasar pilihan kita adalah semua dimulai dari niat diiukuti keimanan dan ketakwaan yang murni, bukan yang selain itu.

Semoga penjelasan singkat ini dapat mengingatkan masyarakat muslim dan umum di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore, Pakistan dan dunia pada umumnya yang mengikuti hal ini untuk menggunakan pilihan dinar dan dirham murni yang memenuhi kaidah fikih dan dalil syara atau koin emas dan perak lainnya yang setara dalam berat dan kadar.

Allah adalah maha lembut (latif) memberikan petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Tunjuki kami selalu jalan yang lurus, yang membuat kami sampai kepada kemurniaan cinta dan itulah jalan kemenangan. Tujuan kita adalah Allah, ya awwalu ya akhiru ya dhahir ya batin. Allah huma ya Allah kami mohon untuk kita semua yang memperjuangkan Islam murni, selalu dikumpulkan bersama wali-walimu dimanapun berada, bersama para arifin, shalihin dan shiddiqin. Amin

Lampiran ini juga saya tujukan kepada saudara kami: Prof. Dr. Ahamed Kameel Mydin Meera (IIUM, Malaysia), Assoc. Prof Ahmad Badri Ismmail (USM, Malaysia) Norbaini Hassan (Malaysia), Haji. Nik Mahani Mohamad (Malaysia), Aidawati Dahari (Malaysia), Amirul Haji Mohammad (Malaysia), Utstad Abdul Halim (Persatuan Ulama Singapura), Prof Tariq Khan (Capetown, Afrika Selatan), Muhamad Nizam Shaidon (Jentayu Mas, Malaysia), Aman Tahir (CEO SRDC, Brunei), Prof Dr. Muhammad (Indonesia), Wan Ainun Zarina Dan Wan Ahmad Radzi ( Malaysia), Utadz Abdul Shakur Brooks (Canada), Arash Rashid (Dinarpal Malaysia), Saleh Eko Marwoto (Indonesia) dan Tim Teknis Antar Bangsa.

Published by

Ali

All you need is love

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s