UANG KERTAS, UANG RIBA

sources: ribat jakarta/ http://www.islamhariini.org

Uang yang ada sekarang ini, yaitu uang kertas, semata-mata adalah lambang, yang mewakili uang hutang (promissory note) atau IOU – I Owe You- (Saya Hutang Kamu) – hutang yang menuntut bayaran lebihan atau tambahan. Maka jelaslah bahwa uang kertas adalah uang riba.

Uang kertas riba adalah satu-satunya ciptaan manusia yang membawa bencana, celaka, kezaliman dan malapetaka kepada seisi bumi ini. Menciptakan artinya menjadikan, dari tiada menjadi ada. Ciptaan ini menggunakan kertas, mencetak angka dan memberi nilai pada kertas. Dewasa ini, uang kertas dipakai sebagai perantara pertukaran atas paksaan negara dan penegasan undang-undang. Pendek kata, kita dipaksa memakai uang kertas yang nilai dan peredarannya dikuasai oleh bank-bank di bawah pengawasan negara.

Uang kertas haram menurut Islam karena uang itu tidak mempunyai nilai apapun kecuali dengan melalui paksaan monopoli.

Uang kertas adalah ciptaan atau rekayasa kuffar Barat dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam. Bagaimanapun, uang kertas riba diperkenalkan di Persada Islam untuk meneruskan penjajahan dan pemaksaaan intelektual melalui  persekongkolan dengan golongan munafiqun8.

Dari segi sejarah uang kertas riba telah melalui beberapa tahap perubahan dan sedang melanjutkan evolusinya. Bersalin dari kertas ke suatu bentuk elektronik yang merupakan unit ‘uang andaian’ (hypothetical money).

Sebenarnya, sepanjang catatan sejarah, emas dan perak merupakan uang sejagat yang digunakan untuk berjual-beli di Eropa, di benua Afrika, di bumi Cina dan kepulauan Nusantara. Namun, pada masa Zaman Kegelapan Eropa, ’uang kertas’ mulai digunakan sebagai nota pertukaran (bill of exchange) di antara pedagang-pedagang di bandar-bandar yang berlainan.

Uang kertas dipakai di Italia pada abad ke 11, dan selanjutnya di Naples, Swedia, Cologne, Vienna dan Granada di Spanyol pada abad ke 15 hingga abad ke 18 di Perancis. Setiap kali uang kertas mencapai puncak putaran pengembangan kredit, ia tidak punya nilai lagi. Uang kertas mengalami perubahan besar dan bermakna dengan berdirinya Amerika Serikat. Ketika itu, uang kertas menjadi perantara pertukaran yang diterima umum dan berkekalan serta didukung oleh pemerintah atau negara.

Perubahan besar terjadi atas uang kertas sesudah tamatnya Perang Dunia Kedua, yakni uang kertas berubah menjadi barang niaga (dagangan) yang berdiri sendiri sekali pun ia bukan komoditi. Penerbitannya pun dijadikan monopoli bank negara atau bank swasta. Rangkaian global uang kertas dijeratkan pada tahun 1944, ketika semua mata uang dunia ‘diikatkan’ pada dolar Amerika Serikat, sementara dolar itu sendiri disandarkan kepada emas dengan nilai $35 satu ons

Secara teori, semua dolar itu bisa ditukarkan dengan emas. Karenanya, apabila permintaan emas terus meningkat, Presiden Nixon melepaskan dolar dari ikatan standard emas pada tahun 1971, (Perjanjian Brentonwood). Dengan begini, dolar dan mata uang lain yang berpaut padanya, terapung-apung ditiup badai ribut pasaran yang berguncang sebagai komoditi yang diperdagangkan.

Asal Uang Kertas – Resi ( Kertas tanda terima)

Asalnya, uang kertas merupakan resi(tanda-terima) yang dikeluarkan mewakili sejumlah uang tulen – lumrahnya emas dan perak – yang diserahkan oleh pedagang-pedagang kepada saudagar-saudagar emas untuk diamankan dalam peti besi. Simpanan ini disebut deposit.

Pada masa itu, uang resi bukanlah mata uang yang sah (legal tender) menurut undang-undang negara. Resi itu hanyalah bukti perjanjian di antara saudagar emas dengan mereka yang menyimpan uang padanya.

Dalam kata-kata lain, uang kertas adalah nota janji hutang (promissory note) atau IOU (Saya Hutang Kamu), yakni janji untuk membayar balik resi itu dengan emas atau perak yang telah berikan kepada saudagar-saudagar emas untuk diamankan.

Resi ini kemudian bertukar menjadi uang kertas apabila pedagang-pedagang mulai menggunakannya untuk berjual-beli. Ia dianggap lebih memudahkan atau efisien dalam istilah ekonomi dari menukarkan resi itu kepada emas atau perak. Dengan ini, uang kertas mulai berputar dalam jual-beli walaupun pada mulanya penggunaannya terbatas. Sebenarnya pertukaran itu melibatkan pertukaran nota hutang dengan nota hutang. Maka hutang-hutang pun beralih-tangan dan ini terlarang dalam Islam.

“Tidak dibenarkan membayar pinjaman dengan meminta peminjam menerima bayaran dari orang ketiga yang berhutang kepada pemberi hutang…” (Al-Risala, Ibn Abi Zaid al’Qairawani, bab 34).

Dengan demikian, tidak dibenarkan menunaikan hutang dengan hutang lain.

“tidak dibenarkan kamu menjual sesuatu yang kamu tidak punyai (miliki) dengan sadar bahwa kamu membelinya dan akan memberikannya kepada si pembeli.” (Al-Risala, Ibn Abi Zaid al’Qairawani, bab 34).

Nota Berubah Menjadi Uang Hutang

Selanjutnya, resi-resi itu mulai dipinjamkan dengan membebankan bunga untuk sesuatu waktu atau jangka masa. Dari pemegang amanah, saudagar-saudagar emas bertukar menjadi peminjam uang atau pemberi hutang, yang di belakang hari menjadi ahli-ahli bank pula.

Kemudian saudagar-saudagar emas mulai mengeluarkan lebih benyak resi dari jumlah uang atau perak yang ada dalam simpanannya. Dengan cara demikian, saudagar emas yakni peminjam uang menggandakan uang riba – menelurkan uang dari angin. Demikianlah dimulai prinsip perbankan, dan bank mulai menampakkan belangnya.

Bank of England yang didirikan pada 1694 adalah bank pusat yang pertama kali dibentuk. Pengasasnya, William Peterson berkata: “The bank will benefit from the interest of money that it creates out of nothing” (Bank ini akan memperoleh keuntungan dari bunga dari uang yang diterbitkannya dari nol). Maksudnya, bank dan lembaga keuangan mempunyai hak istimewa – lebih istimewa dari hak istimewanya orang Melayu – yaitu untuk menggandakan uang dalam simpanannya dengan mengenakan bunga ke atas pinjaman bank guna membikin uang dari angin.

Uang dari angin inilah yang menyebabkan kredit berkembang sehingga ia tidak bisa dikendalikan lagi. Akibatnya, hutang-hutang tak terbayar dan kebangkrutan terjadi dan menjadi-jadi. Hutang dan pembangkrutan adalah caranya bank untuk merampas kekayaan dan harta benda nasabahnya.

Uang dari angin ini jugalah yang membiayai perluasan penjajahan dan kerakusan Dunia Barat untuk membuka daerah-daerah dan ‘pos-pos perdagangan’ di Timur dan di Persada Islam, dengan tujuan meraup untung untuk membayar hutang riba.

Apa yang dicapai oleh penjajah Inggris dengan melakukan perjanjian dengan Raja-Raja Melayu dan sistem residen, kemudian dicapai pula oleh elit keuangan riba dengan meneruskan rangkaian sistem bank yang menjadi warga di setiap pelosok dan mengikat para peminjam dengan perjanjian-perjanjian yang menindas.

Bank-bank ini berangkai dengan satu badan bank utama, yakni bank besar – bank penghulu segala bank. Bank utama ini disebut bank pusat atau bank nasional. Bahkan kini sudah ada diskusi bagaimana hendak mendirikan bank pusat antar-bangsa guna mengawasi bank-bank nasional.

 

Published by

Ali

All you need is love

4 thoughts on “UANG KERTAS, UANG RIBA”

  1. ya kan bawa koin satu atau lima koin juga dah cukup, lima itu sudah senilai 5 juta. dari pada kemana bawa kertas ya mending bawa koin emas…emas dimana aja laku hehehe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s