UANG KERTAS DAN SISTEM RIBA

Di awal tahun 2000 ( artikel ini ditulis tahun 1997) masih ada banyak orang yang percaya bahwa kita memerlukan bank karena telah begitu ketagihan ‘bantuan’ bank apabila sedang kesulitan uang, disamping bank juga telah memudahkan kita membayar hutang-hutang kita. Bagi khalayak warga dunia masa kini, satu-satunya sumber keuangan mereka diperoleh dengan melanjutkan pinjaman dari bank. Padahal bank yang memberikan pinjaman itu hanya mengeluarkan pinjaman pokoknya saja. Sedangkan masyarakat dipaksa membayar lebih dari pinjaman pokok yang dikeluarkan itu.

Dengan cara itu, apabila pinjaman telah dikeluarkan, maka segera saja kelebihan atau tambahan perlu dibayar ke atas pinjaman itu. Dalam ungkapan lain, secepatnya uang pinjaman meninggalkan bank – baik bernama Islam atau tidak – kelebihan atau tambahan perlu dibayar. Dan semua itu harus ditanggung oleh masyarakat.

Maka kelebihan atau tambahan itu terpaksa dicari dari cadangan uang dalam masyarakat dan tentu saja, uang itu asalnya adalah pinjaman dari bank juga adanya.

Riba dari segi bahasa berarti kelebihan atau tambahan. Akibatnya, semua uang yang beredar mengandung kelebihan atau tambahan padanya, yang akhirnya menyebabkan uang itu susut nilai. Gejala buatan manusia ini – dikenal sebagai inflasi – ini terkandung dalam sistem keuangan riba.

Inflasi tidak lain dan tidak bukan adalah ‘cukai yang tidak nampak’ (invisible tax) dan perampokan yang diatur oleh undang-undang.

Bank senantiasa mau memeras lebih banyak uang dari masyarakat melalui kelebihan atau tambahan bayaran atas kelebihan hutang dari apa yang dipinjamkan. Ini mencetuskan putaran ganas pinjaman yang berkelanjutan untuk menerbitkan lebih banyak lagi uang.

Pengembangan kredit ini selain tidak mencerminkan pertumbuhan kekayaan yang sejati, juga membesarkan inflasi karena barang dan jasa-jasa mengalami ‘monetization’– semuanya dinilai dengan uang kertas yang tidak menentu.

Dengan pertumbuhan khayal ini, keseluruhan sistem keuangan riba akan runtuh.

Setiap kali pinjaman dikeluarkan, lebih banyak uang perlu dicari, dan dipinjamkan. Akibatnya, harga barang dan jasa-jasa naik, dan ini memaksa kenaikan gaji supaya bisa mendapatkan lebih banyak uang untuk meningkatkan kemampuan membeli barang-barang yang telah melambung harganya itu. Dengan kata-kata lain, putaran inflasi terjadi akibat terlalu banyaknya uang menghambat barang dan jasa-jasa yang sedikit. Hal ini disebabkan  oleh penggandaan uang tiada henti. Uangnya tetap sama, hanya nilainya saja yang turun karena jumlahnya dalam peredaran berlipat-ganda.

Selama waktu kita memakai uang kertas, maka uang kertas itu akan mengalami susut nilai yang berkepanjangan, yang secara langsung menyebabkan merosotnya kekayaan dan harta benda kita.

Susut nilai ini adalah satu bentuk pajak yang dikenakan oleh bank secara halus kepada semua pengguna uang kertas. Ini karena bank mengucurkan kredit (kemudahan membayar belakangan atau penangguhan pembayaran), dan pengembangan kredit menyebabkan inflasi.

Berbagai pajak seperti pajak kendaraan, tanah dan sebagainya yang dikenakan oleh negara kepada rakyat, juga memperkokoh inflasi. Negara memungut pajak untuk membayar kelebihan atau tambahan hutang negara kepada bank. Karenanya, negara sudah menjadi  unit penghutang, yang memeras dan menindas masyarakatnya dengan segala macam bentuk cukai.

Tidak ada pajak dalam Islam, yang ada hanya zakat fitrah, zakat harta dan jizya bagi golongan dhimmi – orang bukan Islam yang bernaung di bawah pemerintah Islam.

Sektor swasta menjaminkan aset mereka, pemerintah telah menjaminkan harta benda nasional kepada bank, maka terangkum dalam hutang swasta dan hutang nasional itu maka dunia sudah dijaminkan dan digadaikan kepada perseekutuan bank se-dunia.

Jikalau uang kertas tidak dihentikan penggunaannya, pemindahan kekayaan yang berterusan dari nasabah peminjam kepada pemberi pinjaman (bank) akan berkelanjutan. Inilah caranya bagaimana bank-bank di dunia kini memiliki hampir segala sesuatu di muka bumi ini.

Dengan terang-terangan, para penguasa keuangan riba menguasai dunia, penguasanya bukan lagi pemerintah atau negara-negara, apalagi lagi politikus primitif kerdil. Sama seperti ahli-ahli sihir Firaun, penguasa elit keuangan riba menggunakan sulapan uang kertas untuk memukau penonton-penontonnya. Tidak diragukan lagi, Sistem uang kertaslah yang bertanggungjawab menimbulkan kekurangan dan kemerosotan. Permainan jungkat jungkit ini hanya bisa terjadi dengan adanya uang kertas sebagai poros penyangganya.

Kita boleh mengambil pelajaran dari apa yang berlaku di Irlandia. Dalam suatu ujicoba, bank di negara itu hendak mengajar masyarkat, maka mereka menghentikan operasinya. Namun khalayak tak perduli dengan tindakan perbankan itu dan meneruskan tataniaga/ perdagangan mereka tanpa bank.

Ketika perbankan sadar bahwa tindakan itu merugikan mereka sendiri, maka mereka membuka ‘perniagaan’ mereka kembali.

Kesimpulannya, semua kembali kepada tindakan masyrakat umum apakah hendak menggunakan bank atau tidak. Kita tidak memerlukan bank. Bank memerlukan kita. Tanpa keterlibatan kita, bank tidak ada gunanya.

Seperti ditulis Bank Islam Malaysia Berhad, Penubuhan dan Operasi: “Tanpa uang simpanan mereka, bank tidak dapat menjalankan ‘perniagaan’ dan operasinya…”

Published by

Ali

All you need is love

2 thoughts on “UANG KERTAS DAN SISTEM RIBA”

  1. Seperti yang telah ditulisan di atas sudah dijelaskan bahwa kita pada dasrnya tidak perlu bank tapi banklah yang perlu kita…karena bank hidup dari bunga dan kredit (hutang).

    Kita dibuat bergantung kepada bank karena bank memonopoli 2 hal utama yaitu: 1. Nilai nominal kertas dan yang ke 2 adalah menciptkan kredit tanpa batas, jadi ketika kita masuk dalam permainan bank ini, pada satu titik kita terlihat seolah-olah memerlukan bank🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s