RIBA-SISTEM UANG BERGANDA

Melalui sistem ganda-mengganda uang ini, bank boleh mewujudkan hutang jauh lebih banyak dari simpanan tunai dalam bilik besinya. Begini caranya. Bank biasanya beroperasi dengan kartuar pembagian 20:1. Artinya, hanya satu unit dari 20 unit itu berada dalam simpanan bank (berupa uang tunai). Selebihnya dipinjamkan semuanya.

Ramai orang menyangka bahwa bank meminjamkan uang yang didepositkan oleh penyimpan, padahal sejumlah besar uang yang dipinjamkan oleh bank itu sebenarnya tidak ada dan tidak wujud – semuanya dicetak atas angin belaka. Dengan cara ini, bank mewujudkan struktur istimewa kredit yang berlipat ganda.

Apabila hutang pribadi-pribadi dan negara-negara berlipat-ganda secara sistematik, ia menyebabkan inflasi yang berkepanjangan dan tidak berakhir. Inflasi berkobar lagi apabila uang kertas terus digunakan dan ini mengecilkan ‘daya beli’ uang itu.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa hubungan bank – termasuklah ‘Bank Islam’ – dengan pemakaian uang kertas tidak dapat dipisahkan atau diceraikan.

Uang kertas memerlukan bank dan bank menjadi perantara atau saluran uang kertas. Tanpa bank, uang kertas tidak mempunyai jalan; dan tanpa uang kertas, bank tidak mempunyai peranan atau dalam istilah ekonomi – tidak berfungsi.

Bank hanya boleh wujud dan bergerak dengan adanya uang yang bersifat perlambang (symbolic) atau pengandaian semata-mata (hypothetical) untuk digandakan, dan cuma uang kertas saja yang bisa digandakan dari atas angin karena ia  bukan barang niaga seperti emas dan perak.

Walaupun namanya uang kertas Islam, amanah saham Islam, ‘Islamic Eurobond’ atau nota bank yang dikeluarkan oleh ‘Bank Islam’ – semuanya bersifat andaian semata-mata, tidak lebih dari itu, apapun alasan golongan modernis untuk membelanya.

Bank dan Negara Memonopoli Uang

Walaupun uang kertas tidak mempunyai kaitan dengan barang niaga, seperti emas dan perak yang boleh didagangkan, namun uang kertas dipakai juga sebagai perantara pertukaran.

Ini karena kegunaan lembaran kertas itu dipaksakan sebagai perantara pertukaran oleh negara yang membutuhkan nilai-harga di atas uang kertas itu. Ia dianggap paksaan atau desakan karena tidak ada mata uang selain uang kertas itu yang dibenarkan penggunaannya.

Lantaran semua negara memaksakan pemakaian uang kertas sebagai perantara pertukaran, maka negara-negara itu sebenarnya negara-negara tirani.

Selanjutnya, nilai mata uang itu ditentukan kesewenangan para penguasa pasar yang ajaib melalui spekulasi dalam pertukaran mata uang asing. Kini uang kertas yang tidak mempunyai nilai hakiki itu sudah menjadi komoditi yang dijual-beli.

Sebenarnya nilai mata uang yang ditempelkan pada uang kertas itu jauh berlebihan dari nilai kertas itu sendiri. Nilai mata uang itu hanya dapat ditentukan melalui monopoli – tidak ada pihak lain dibenarkan menerbitkan uang kertas kecuali bank dan negara.

Perantara pertukaran yang berlaku lewat monopoli bertentangan dengan shari’at Islam. Bahkan, sebaliknya, suatu perantara pertukaran itu harus saling diterima oleh mereka yang menggunakannya. Syarat wajib ini disebut ‘an taradim-minkum’.

Sekiranya perantara pertukaran itu harus memenuhi syarat saling diterima, maka umat Islam semestinya bebas untuk menentukan jenis dan bentuk perantara pertukaran yang bisa digunakan secara spontan dan langsung.

Umat Islam haruslah memilih perantara pertukaran yang mereka hendak gunakan dan bukan yang dipaksakan ke atas mereka oleh negara-negara yang sudah menjadi unit penghutang kepada Bank Dunia.

Published by

Ali

All you need is love

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s