Dr. Yusuf Qardhawi On Dirhams and Dinars in Shariah

Tulisan ini adalah kiriman dari saudara Khairul Anam yang diambil dari buku Fikih Zakat, Dr. Yusuf Qardawi (Volume I, hal 129-130) tentang tulisan dirham dan dinar dalam syariah. Tulisan ini paling tidak menjawab pertanyaan kami mengenai dari mana asal usul pengukuran berat 1 Dinar= 4,25 gram tapi kami belum mendapatkan referensi dari mana ketetapan kadar 1 Dinar adalah 22K, karena dalam buku Dr. Qardawi disebutkan adalah emas murni. Sejauh yang kami tahu tulisan di bawah ini adalah referensi satuan berat yang cukup jelas sumbernya yang bisa kami temukan, walaupun demikian kita lihat Dr. Qardawi tidak melakukan pengujian dan pengukuran langsung mithqal terhadap satuan berat hari ini dalam gram.

Dirham and Dinars in Syariah (hal 129-130)
It is essential in order to complete the picture of zakah on gold and silver to find out how much, exactly, is the dirham of silver and the dinar of gold worth today. We can then determine the current equivalent of nisab. Many scholars early and late, have attempted to find out the exact quantity of the dirham and dinar. They include Abu ‘Ubaid in al Amwal, al Baladhari in Futuh al Buldan, al Khattabi in Ma’alim al Sunan, al Mawardi in al Ahkam al Sultaniyah, al Nawawi in al Majmu‘, al Maqrizi in Ancient Islamic Currencies, Ibn Khaldun in the Introduction, and several others.Ibn Khaldun summarizes, “One must realize that it is unanimously agreed upon since the early ages of Islam, the era of the Companions and Followers, that the dirham in Shari’ah is that ten of which equal in weight seven mithqal of gold. Uqiyyah is 30 dirhams. Consequently, the weight of a dirham of silver equals seven-tenths the weight of a dinar of gold. One dinar of pure gold equals 72 grains of rye of average weight; thus, one dirham weighs fifty-five grains. All these measures are affirmed by unanimous agreement.”

The dinar [which is the same as a mithqal] did not change from the era before Islam. However, Muslim currencies, at the above mentioned weights, were used in a wide area, since the time of Ummayad caliph ‘Abd al Malik bin Marwan. At this time, there were different dirhams with different weights, and he unified them, in accordance with the above ratios. Changes were incorporated in later minting of dirhams and dinars after ‘Abd al Malik in several countries, so the above-cited definition by Ibn Khaldun became only theoretical, and people had to find out the proportion between their local currencies and those definitions in determining nisab and other Shari’ah quantities.

The Prophet (p) guides us to a very useful practice, in unifying measures and quantities all over the country. He said, “Weight measures are those used by Makkans, and volume measures are those used by Madinans.” Makkans were people of trade, accustomed circulating dinars and dirhams by weight, and they wore more precise in their weight measurements. Madinans were cultivators of crops and fruits, and they were more accurate in using volume measures, such as al Wasq, al Sa’, and al mudd. It was hoped that all Muslim countries would unify and standardize their measure of weight and volume, in accordance with those of the Makkans, and Madinans, in order to make the application of quantities mentioned in Shari’ah easier. Unfortunately, Muslims have not given sufficient attention to that useful directive of the Prophet (p). They have differences in their measures of weight and volume from one country to the other, and we came to see ratl defined differently in Baghdad, Madinah, Egypt, and Syria, the same way the dirham and dinar were given different weights in different countries. All this makes our task of finding the exact equivalent of the dirham and the dinar today even more difficult. Those grains that were used in defining the dirham and the dinar are not themselves precise, which adds yet another difficulty to the problem on hand. Yet we must determine the exact weight of the dirham and the dinar in order to define nisab of gold and silver in our days.

‘Abd al Rahman Fahmy, secretary of the Islamic Art Museum in Cairo, after a thorough examination of the tools used for minting, and many historical coins, comes up with the estimation that a dirham equals 3.104 grams of silver in his book on coin minting in the early ages of Islam. Ibn ‘Abidin, after narrating several views of the Hanafites, comes up with a conclusion that it is very difficult to find an agreement on the exact weights of dirhams and dinars. A more recent researcher, using al Maqrizi’s writings and comparing Greek and Islamic weights for the dirham and dinar, concludes that the dirham should be 3.12 grams of silver, which is close to Fahmy’s figure. But it seems that the latter study does not distinguish between the dirham that used to be a unit of weight and the dirham that was used as a unit of silver currency. Al Maqrizi himself quotes from al Khattabi that there used to be several dirhams, one a weight unit and another a currency unit. Some other studies depend on actually weighing coins that were saved from the early Islamic eras and preserved in museums throughout the world. It seems, however, that the mithqal, which is the same as the dinar, is more constant and stable than the dirham. If we can determine the weight of a mithqal, then the weight of a dirham can easily be derived.

About these ads
About

all you need is love

Posted in Dinar and Dirham, Islam, Nusantara, Sejarah
5 comments on “Dr. Yusuf Qardhawi On Dirhams and Dinars in Shariah
  1. hanyaabdullah says:

    Tulisan ini paling tidak menjawab pertanyaan kami mengenai dari mana asal usul pengukuran berat 1 Dinar= 4,25 gram tapi kami belum mendapatkan referensi dari mana ketetapan kadar 1 Dinar adalah 22K, karena dalam buku Dr. Qardawi disebutkan adalah emas murni.

    Kalau boleh saya ingin membantu dalam permasalahan yg ditulis di atas:

    Banyak para sarjana yg menghafal puluhan dan beberapa di antara mereka ratusan ribu hadits, (sebagian kecil) merasa, bahwa mereka adalah yg paling dekat dg sunnah. Orang ini bingung, antara sunnah dg hadits. Faktanya adalah sunnah bukanlah hadits. Dua hal ini tidaklah sama. Karena itu anda tidak bisa begitu saja membuka kitab-kitab hadits dan menunjukkan ke orang-orang, bahwa itulah sunnah.

    Mungkin Imam yang paling dekat dg masa para sahabat, semoga Allah meridhoi mereka, adalah Imam Malik rahmatullahi alaihi. Kita tahu kalau ada hadits yg bentrok dengan sunnah penduduk madinah, maka Imam Malik lebih condong ke sunnah penduduk madinah. Tidak mungkin praktek yg dilakukan oleh mayoritas penduduk tiba-tiba berubah, kecuali ada hal luar biasa yg mendahuluinya, semisal perintah Nabi sallallahualaihi wasallam. Sementara hadits, ada banyak faktor yg perlu dipertimbangkan. Misalnya ada sahabat yg hadir ketika Nabi memerintahkan hal yg baru, dan ada pula yg tidak hadir. Karena itu hadits dari kedua sahabat ini bisa bentrok, dll.

    Lalu bagamana kita tahu sunnah di masa lampau dalam hal dinar dan dirham apabila ada jeda waktu sekitar 1400 tahun? Untungnya, koin emas adalah benda yg tahan lama, dan kita bisa mendapati koin yg masanya lebih dekat dg masa para sahabat, yaitu koin dari Khilafah Umayyah. Kita tidak bisa begitu saja menggunakan kitab kontemporer dan menggunakan hadits tersebut sebagai landasan. Salah satu yg perlu dipertimbangkan dari hadits adalah interprestasi. Contoh: emas murni pada masa lampau bukanlah emas murni seperti yg kita kenal pada hari ini. Karena itu apabila menggunakan hadits, kita bisa mempunyai interprestasi berbeda.

    Kenapa anda bersusah-payah yg pada akhirnya membuat interprestasi berbeda dari suatu hadits, kalau sunnah dinar masih tersimpan dg baik dalam bentuk koin-koin dari Khilafah Umayyah. Uji saja berat dan kadarnya dari sunnah tersebut.

    • Al Faqir says:

      Mengenai fakta tentang apa itu hadist dan sunnah tentunya Khairul Anam juga sudah mengerti, tidak perlu menghakimi, mungkin yang bingung adalah anda. Tulisan Dr. Yusuf Qardhawi yang dipaparkan disini justru bukan menjadi sandaran, tapi lebih kepada referensi mistqal yang juga dia konfirmasi. Tidak sepenuhnya kami setuju tulisan beliau terutama terkait dengan uang kertas, dan disitu secara bijak dia mengaku tidak meneliti secara langsung berat mithqal kepada satuan gram, sebuah kejujuran kami hargai terlepas Dr. Qardawi, terlepas dari dia melaksanakan atau tidak.

      Silahkan kalau anda memang mengikuti Imam Malik tunjukanlah diri anda dan keluarga anda sekalian mengamalkannya, jangan hanya pandai mengecam orang lain seolah anda lebih paham urusan ini dan karena ini bukan hanya urusan dinar dan dirham, artinya kalau anda berbicara Imam Malik artinya mengerti dan melaksanakan keseluruhan fikih dalam qira’at dalam shalat, rukun shalatnya, rukun wudhu, adzan madinah, dan lain-lain sesuai madhab maliki, yang dibuktikan bukan dengan menulis, tapi dengan mengamalkannya dalam batas-batas adab, kami menghormati 4 Imam Madhab, begitupula kami dan saudara Khairul Anam. Islam tidak lain adalah adab lahir dan batin, Dien Islam bukan hanya urusan dinar dirham Islam.

      Mengenai kemurnian kita tentu mengambil yang terbaik hari ini yang dikenal dengan Emas Murni 24K, teknologi emas sudah dikenal sejak masa nabi Adam as (baca Tinjauan Sejarah, Penelitian dan Kajian Fikih dari IMN). Silahkan saja kemukakan referensi anda yang akurat bahwa emas pada masa lampau kemurniaannya tidak seperti yang anda maksud hari ini, mungkin makin bisa melengkapi kepada kebenaran. Kami juga temukan referensi bahwa pada masa lampau bahwa emas sudah bisa dimurnikan dalam pengertian sekarang. Mengenai berat koin silahkan juga lihat buku Coinage Of Islam untuk menambah wawasan, karena koin-koin tersebut masih tersimpan dengan baik juga.

      Tidak perlu marah atau merasa sudah benar sendiri, kalaupun ada sekelompok pemuda muslim yang meneliti baik sejarah Kajian Sejarah, Keilmuan Logam, Fikih, Hadist sesuai sumber Al Quran dan Sunnah dengan tatacara yang anda sebutkan, seharusnya anda bersyukur, dimana dalam Islamic Mint Nusantara disitu berkumpul orang-orang yang mencari kebaikan dan keridhaan Allah. Islam adalah jalan cinta yang murni.

  2. Al Faqir says:

    yang menarik dari pemaparan tulisan Dr. Qardawi yang dikirim saudara Khairul Anam adalah:

    ‘Abd al Rahman Fahmy, secretary of the Islamic Art Museum in Cairo, after a thorough examination of the tools used for minting, and many historical coins, comes up with the estimation that a dirham equals 3.104 grams of silver in his book on coin minting in the early ages of Islam. Ibn ‘Abidin, after narrating several views of the Hanafites, comes up with a conclusion that it is very difficult to find an agreement on the exact weights of dirhams and dinars. A more recent researcher, using al Maqrizi’s writings and comparing Greek and Islamic weights for the dirham and dinar, concludes that the dirham should be 3.12 grams of silver, which is close to Fahmy’s figure.

    Berat Dirham dengan berat 3.104 gram di Islamic Art Museum dan Dirham dengan berat 3.12 gram, artinya kalau dimasukan kerumus berat dinar dirham 7/10, bisa dihitung langsung berapa berat Dinar (emas murni).

  3. Al Faqir says:

    Kepada Mas Anam terimakasih atas kiriman tulisan yang diambil dari Dr. Qardawi ini, yang akan menambah referensi bagi muslim dan umum dan juga akan memperluas tulisan mengenai dinar dirham di ISLAM HARI INI yang tidak hanya bersumber dari kelompok tertentu yang merasa paling benar.

  4. Karena nama saya disebut saya sedikit berkomentar: (1) Saya bukan seorang Maliki, sampai hari ini saya seorang Syafi’i. Meskipun saya sedikit, sangat sedikit belajar fiqh muqoron (fiqh perbandingan) prakteknya saya tetap Syafi’i dalam hal ‘ibadah maupun mu’amalah. Sholat saya mengikuti mayoritas Syafi’i. Saya memulai belajar fiqh Syafi’i dari At Tadzhib yang merupakan syarh atas Matan Ghoyah wa Taqrib (dikenal sbg Matan Abi Syuja’). Saya juga mengkaji kitab Fathul Qorib, I’anatuth Tholibien, Al-Muhadzdzab, dlsb. Dan Alhamdulillah diberi kesempatan untuk mendapatkan sanad kitab2 tersebut. Meskipun demikian saya bukan seorang faqih dan pandai, saya hanya belajar untuk praktek sendiri saja, setidaknya apa yang saya lakukan ada dasarnya. (2) Mengenai sunnah dan hadits tentulah sudah dipelajari perbedaan pemahamannya antara Madzhab Syafi’i dan madzhab2 lainnya. Madzhab Syafi’i mengutamakan adab. Pernah dikatakan bahwa التزام الأدب مُقدَّم على امتِثال الأمْر [adab didahulukan daripada mematuhi perintah Nabi]. Dalam sebagian ulama menjadikan ucapan tersebut qo’idah dalam fiqh. Dan ini berbeda dengan konsep Maliki dalam istinbath (3) Kutipan di atas sepenuhnya dari DR. Syaikh Yusuf Qordhowi dalam Kitabuz Zakah yang juga disertasi beliau. Kapasitas beliau diakui dunia, dan tidak ada keraguan daripadanya. Apabila saudara menolak pendapat beliau, saya kira keterangan dari Al Faqir sudah jelas bahwa ini sekedar referensi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Exchange Rate
Friday 04/ 04/ 2014
update 11:00 (WIB)
sources: www.dinarfirst.org

1 Gold Dinar (9999)
4.44 gram or 1/7 troy ounce
IDR 2,166,500

1 Silver Dirham (999)
3,11 gram or 1/10 troy ounce
IDR 39,000

1 Daniq (999)
0.5183 gram or 1/60 troy ounce
IDR 11.000

#DinarDirham #IndonesiaHapusRiba #IslamHapusRiba
Bertamu
  • 210,865 hits
Dinarfirst People
From #Surabaya starting with #DinarDirham for halal trading #IslamHapusRiba #FreeMarket #Gold #Silver #IMN #DinarfirstPeople www.dinarfirst.org #DinarDirham #RemoveRiba #IndonesiaHapusRiba #IslamHapusRiba #Gold #Silver #IslamicMintNusantara #Tradition #Culture www.dinarfirst.org Kraton Yogya Peringati HUT 266, Mewujudkan KeKhalifahan Jawa http://dinarfirst.org/kraton-yogya-peringati-hut-266-mewujudkan-kekhalifahan-jawa/ #DinarDirham #Dinarfirstpeople #Java #Nusantara #IslamHapusRiba #IndonesiaHapusRiba #dinarfirstpeople mas Musa with 1 Dinar 4.44 gram (9999), find it at www.dinarfirst.org. #dinardirham #pasar #muamalah #saudara #gold #silver #nusantara #dinarfirstpeople mas Lilik is one of the trader of organic rice and pure coconut oil from #yogyakarta Sultanate are use #dinardirham nabawi for muamalah. 1 Dinar is 4.44 gram (9999) or 1/7 troy ounce, Islamic Mint Nusantara, World Dinar Council. find it at www.dinarfirst.org #gold #silver #pasar #mumalah
Follow Islam Hari Ini on WordPress.com
Islam Hari ini

Website ini adalah sarana untuk meperkenalkan segala yang berkaitan dengan ilmu dan amal yang terkait dinar dan dirham, fikih Imam Malik ataupun Imam Syafi'i, cetak biru sumber awal muslim yang perlu kita jalankan kembali sebagai muslim agar dapat keluar dari penyakit jaman ini yaitu riba (bank dan uang kertas) dan meinggalkan sihir demokrasi.

Islam hari ini bukan yang kiri atau kanan, bukan ekstrem, bukan anti, bukan idealis, bukan liberal, bukan nasionalis, bukan teroris, bukan yang lalu atau akan datang, kita tidak berdialektika. Islam adalah hari ini, disini dan saat ini. amalkan.

Mulanya islam itu asing, dan kembali asing seperti semula. Maka berbaik-baiklah kepada orang asing itu! Dan ditanyakanlah kepada Rasulullah salallahu alaihi wasalam, siapakah orang asing itu? Nabi salallahu alaihi wasallam menjawab, Mereka yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari ajaranku'. (pada hadis lain dikatakan) 'orang asing itu berpegang teguh dengan apa yang kamu pegang sekarang.' (pada hadist lain dikatakan) orang-orang asing itu adalah manusia yang sedikit jumlahnya,mereka orang yang baik diantara banyak manusia, yang memarahi mereka lebih banyak dari yang mencintainya (hadis riwayat muslim dan tirmidzi)

Kenapa Uang Kertas Dilarang Dalam Islam

Dalam islam semua transaksi jual-beli harus memenuhi tiga syarat:

1. sukarela atau disebut antaroddin minkum),
2. setara atau disebut mithlan bi mithlin, dan
3. kontan atau disebut yaddan bi yaddin.

uang kertas, namanya rupiah atau dolar atau euro atau pounsterling atau apa saja, tidak dapat memenuhi ketiga syarat tersebut. uang kertas tidak sukarela, tidak setara, dan tidak kontan. jadi, mau buat beli telor, beras, kambing atau buat membayar apa pun, uang kertas tidak bisa digunakan, batil, haram hukumnya.

Uang kertas  tidak dapat memenuhi ketiga syarat jual-beli tersebut, karena di dalamnya mengandung dua jenis riba sekaligus yaitu:

1.riba al fadl (karena ketidaksetaraannya itu), dan
2.riba an nasiah (karena penundaan pembayarannya) tersebut. Jadi jelas, uang kertas itu, haramnya pangkat dua.

Hari ini uang kertas dan sistem perbankan riba dimasukan ketengah kaum muslim nusantara yang di integrasikan (dimapankan) lewat kuda trojan bernama demokrasi.
Apa Itu Dinar Dan Dirham
Dinar dan dirham telah menjadi alat tukar sejak masa Nabi Adam sampai masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan muslimin sampai jatuhnya Ke Khalifahan Turki tahun 1924. Kedua mata uang logam tersebut digunakan umat muslim selama lebih 1400 tahun. Peradaban manusia sendiri telah menggunakan alat tukar emas selama lebih dari 5000 tahun. Umar bin Khattab, radiya’llahu’anhu menetapkan hubungan tegas antara keduanya sesuai berat mereka yakni: “(berat) 7 Dinar harus setara dengan (berat) 10 Dirham”. Wahyu Allah menyebut Emas dan Perak serta mengaitkannya dengan berbagai hukum , misalnya zakat, perkawinan, hudud.

Sehingga sesuai wahyu Allah, Emas dan Perak mesti nyata dan memiliki ukuran dan penilaian tertentu (untuk zakat dan lainnya) yang mendasari segala ketentuannya, bukan atas sesuatu yang tak berdasarkan shari’ah (kertas dan logam lainnya). Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan Islam dan masa Sahabat serta tabi’in, bahwa dirham yang sesuai shari’ah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mithqal (bobot dinar) emas. Berat 1 mihtqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang bobotnya 7/10-nya setara dengan 50-2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini. (Ibnu Khaldun, Al-Muqadimmah). lihat www.islamhariini.wordpress.com


APAKAH DINAR, DIRHAM DAN DANIQ

Dinar
adalah koin emas 4.44 gr (9999) atau 1/7 Troy Ounce

Dirham 3.11 gram (999) atau 1/10 Troy Ounce.

Daniq (1/6 Dirham) 0.518 gr (999) atau 1/60 Troy ounce.

KENAPA DINAR-DIRHAM
Ini adalah pertanyaan penting abad ini, kenapa kita perlu kembali ke alat-tukar emas dan perak? Ini adalah merupakan amal nyata dalam memerangi sistem riba (bank dan uang kertas), Allah dan rasul menyatakan perang terhadap segala praktek riba dan periba

Emas adalah logam mulia dan nilainya tak tergantung pada bangsa maupun ekonomi manapun. Nilainya hakiki dan karenanya handal. Lagipula, emas mudah disimpan dan diangkut, serta segera dikenali sebagai harta kekayaan nyata hampir di seluruh pelosok dunia. Selalu dan akan selalu begitu.

KEGUNAAN DINAR-DIRHAM
Karena Dinar (emas) dan Dirham (perak) mempunyai berbagai fungsi dalam muamalat islam sebagaimana contoh di madinah al munawwara yang antara lain:

1. Untuk Perdagangan Atau Jual-Beli
Sebagai alat tukar, koin dinar emas dan dirham perak dapat digunakan untuk membayar benda niaga dan jasa. Di masa Rasulullah salallaahu alayhi wasallam, seekor ayam dapat dibeli dengan harga 1 dirham, dan hingga hari ini harga ayam masih tetap sama dengan 1 Dirham, 1 ekor kambing dewasa dapat di beli dengan harga 1 dinar hingga hari ini. Artinya selama 1400 tahun inflasi praktis nol. Tak ada alat tukar manapun di seluruh dunia yang dapat melakukan hal yang serupa.

2. Untuk Pembayaran Zakat
Pelaksanaan zakat telah dijelaskan dengan sempurna dan diatur dalam fiqh 4 Imam Madhab ahlul sunnah wal jamaah. Selama berabad-abad saat fiqh dijalankan oleh Khalifah, Sultan ataupun Amir, zakat mal ditunaikan dalam emas dan perak, ini adalah aturan syariah kita.

Saat pertama kali di abad terakhir kolonial menyusupkan uang-kertas, ulama tradisional menolaknya karena berlawanan dengan fiqh. Di antara ulama tersebut muncul ulama terkemuka keturunan Maghribi, Shaykh Muhammad ‘Allish (1802 – 1881), Shaykh para shaykh Maliki di Universitas Al-Azhar di Mesir. Beliau menulis dalam fatwanya jika seseorang mau membayar zakat dengan kertas, maka hanya nilainya sebagai benda niaga (‘ayn), yaitu, nilainya sebagai kertas yang bisa diterima. Dengan demikian, nilai nominalnya tidak bisa digunakan untuk membayar zakat “Jika zakat adalah wajib dengan mempertimbangkan zatnya sebagai benda niaga, maka nisabnya bukan didasari pada nilainya tetapi pada zat dan jumlahnya, sebagaimana emas, perak, biji-bijian, ternak atau buah-buahan. Karena zatnya (kertas) tak berarti (dalam harga) untuk pembayaran zakat, maka kertas harus diperlakukan sebagai tembaga, besi, atau benda serupa lainnya”

3. Sebagai Alat Tukar
Emas dan perak adalah alat tukar universal di seluruh dunia selama berabad-abad. Emas di China sama dengan di Afrika. Sebagai alat tukar untuk pembayaran internasional, emas menghilangkan segala hambatan yang dibuat-buat yang timbul akibat perbedaan mata uang-kertas di setiap negara.

Sebagai alat tukar yang nyata dinar - dirham mempunyai beberapa keunggulan antara lain:
• Stabilitas keuangan
• Nilainya stabil
• Meminimalkan spekulasi dan manipulasi
• Tidak mengenal perbedaan nilai tukar
• Menghidupkan kembali perniagaan sektor riil
• Universal
• Melindungi masyarakat

4. Untuk Tabungan atau Simpanan
Jelaslah bahwa menabung dalam emas menjadi benteng dari manipulasi mata uang-kertas oleh pemerintah maupun spekulan keuangan. Meski sebagai bendanya bisa saja diperdebatkan bahwa emas juga menjadi sasaran fluktuasi berkala, namun kenyataannya jika dibandingkan dengan nilai nisbi benda niaga lain, nilai emas tetap sangat kokoh, sama sekali lebih kokoh dari mata uang-kertas manapun.

Siapa Yang Mencetak Dinar dan Dirham Di Indonesia -Nusantara
Dinar dan dirham Islam telah dicetak dan diperkenalkan di Indoensia pertamakali oleh Islamic Mint Nusantara (IMN) pada tahun 2000, selanjutnya pada tahun 2010 IMN melakukan koreksi mitsqal yang menetapkan dinar dan dirham baru yang kadar beratnya mengikuti sanad pencetakan dari Walisongo.

Bagaimana Nilai Tukarnya
Nilai tukar dinar dan dirham mengikuti naik dan turunnya nilai nominal uang kertas terhadap harga spot emas dan perak dunia, yang ditentukan saat penukaran. Nilai tukar Dinar-Dirham terbaik dapat di lihat di www.dinarfirst.org setiap harinya

Dimana Bisa Mendapatkan Dinar dan Dirham
Jika anda memerlukan dinar dan dirham silahkan hubungi wakil Dinarfirst terdekat di daerah melalui website www.dinarfirst.org atau CALL/SMS/WA Dinarfirst Nusantara +6287719971991

Apa Itu Kios Dinarfirst
Kiosk Dinarfirst adalah jaringan wakil Dinarfirst yang bertujuan sosial kemasyarakatan untuk memudahkan kita semua mendapatkan dinar dan dirham.

Bagi yang telah mengerti dinar dan dirham silahkan langsung beritahukan kepada saudara muslim yang lian. Mari kita taati Allah dan rasulNya.

JIHAD JAMAN INI ADALAH MEMBERSIHKAN DIRI KITA DARI KOTORAN RIBA

Hasbuna llahu wa ni’ma l-wakil. La ilaha illa llahu wa llahu akbar, wa subhana llah wa bi hamdihi wa astagfiru llah, wa la haw la wa la quwwata illa bi llah, hu wa l-awwalu wa l-akhiru wa dh-dhahir wa l-batin, bi yadihi l-khayr, yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala kulli shayin qadir.

Benteng Nusantara
“Yaa ayyuhal ladziina aamanush biruu wa shaabiruu wa raabithuu wat taqullaa-ha la’allakum tuflihun”

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah ber-ribat (waspada-siap-siaga, di daerah perbatasan musuh Islam) dan bertaqwalah kamu terhadap Allah supaya kamu beruntung” (Al-Quran 3:200)

Benteng Nusantara (2000)
Benteng atau Ribat adalah sebuah pertahanan di mana insan muslim dilatih berjihad (berjuang), baik untuk melawan kebodohan dan ketidakadilan sosial, maupun untuk mencapai kecemerlangan spiritualitas jiwa melalaui dhikir, fikr dan himma. Makna Ribat adalah tempat tinggal orang yang menempuh jalan Allah. Sedangkan Murabathah adalah memerangi musuh Islam. Orang yang berjihad membela kaum muslim disebut al-mujahid al-murabith

The Journey To The King
Bismillah! The pleasure of life is only in the company of the Fuqara -they are the Sultans, the masters, and the princes.

There is no higher company. As they are the least of men and make no claims they are the elite and the two worlds are their property. With them is the maqam al-Mahmud, for the Messenger, blessings and peace of Allah be upon him, has said: 'look for me among the poor, for I was only sent among you because of them,' and 'Poverty is all my glory,' and Allah loves the poor.'

Therefore, keep their company and have adab in their assemblies. Leave your portion behind you whenever they send you forward.

Keep their company - in this is half the science of knowledge. Our knowledge is not informational but it is transmitted. The company of the fuqara' is like a developing fluid in which the murid is soaked, until by its properties the image of his secret that has already been imprinted on his self emerges and is recognised. As we see later in the poem, the imprinting of the image is due to being exposed to the light of the Shaykh.

Until you taste this ease in the company of the fuqara' you can never taste ease in your own company. Until you taste ease in your own company you can not reach the stage of entering the arena of the ahwal (states) of the Shaykh. Once you trust the fuqara' you trust yourself. When you trust yourself you meet the Shaykh at last, not as a guide or a teacher, or a leader, but as a light calling to light.

___________________________________ For those who travel to Allah and do not listen to its conversation or follow its opinion, it is like a strong wind released for sailors. In one hour, it makes them arrive whereas others arrive there after a month or a year. Allah knows best. When someone halts with conversation and opinion, by Allah, he ramains becalmed, at a standstill, as occurs to sailors. Such is its nature. We think that the one who leaves what does not concern him will find that the least of means is enough for him. If he does not leave it, nonthing will be enough for him, no matter what he does. (Shaykh ad-Darqawi)

Pengetahuan terbesar adalah pengetahuan yang di iringi rasa takut (kepada Allah). (ibn Ata'illah)

Pecinta sejati tiada bertepi, rindu tanpa batas dan cinta tanpa kahir, tidak dimiliki dan memiliki (al-faqir)

Aku akan berjalan ribuan kilometer bersama kepalsuan, sampai aku bisa menemukan satu langkah yang benar dan sejati (al-Junayd)

GLOSSARIES

islam: orang yang menerima kebenaran, menyatakan kebenaran Allah dan rasulNya

kafir: orang yang menutupi, menolak atau menyembunyikan kebenaran Allah dan rasulNya

riba (bunga): yang pertama, al nasi’ah, merujuk pada selisih waktu; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl , merujuk pada selisih nilai.

shi'a: Mengenai Shi'a, mereka dikenal dengan beberapa nama lainnya, termasuk juga ar-Rafida (orang yang melarikan dari barisan atau berkhianat atau juga pemberontak kepada otoritas muslim -dalam hal ini adalah Khalifah), al-Ghaliyah (artinya Ekstrim- orang-orang yang berlebih-lebihan) dan at-Tayyara (artinya yang tidak bertanggung-jawab atau oran-orang yang mudah berubah-rubah). Mereka dikenal saat ini dengan sebutan Shi'a (artinya The partisans - kelompok yang diam-diam melawan pemimpin islam - dalam hal ini terhadap khalifah) untuk alasan yang sederhana mereka memmisahkan diri (shayya'at) untuk mendukung Ali, semoga Allah memberkahinya, dan mengatakan dia Ali radiallahu 'anhu lebih tinggi kedudukannya dari seluruh sahabat-sahabat baginda Rasulullah salallahu alayhi wasallam. Sebutan Rafida untuk Shi'a dikerenakan penolakan (rafd) mereka terhadap hampir seluruh Sahabat-Sahabat Nabi Muhammad. mereka menolak Ke Imam-an dari Abu Bakr dan 'Umar (semoga Allah memberkahi keduanya). Yang lainnya, bagaimanapun, mereka juga disebut ar-Rawafid (the Desrters- orang yang melarikan dari barisan dalam hal ini berkhianat) karena mereka melarikan diri dari Zaid ibn 'Ali, ketika Zaid menerima otoritas (Kekahlifahan) dari Abu Bakar dan "Umar (semoga Allah memberkahi keduanya) dan mereka menyatakan lebih memilih Imam mereka sendiri. Zaid mengatakan (kepada bekas pendukung-pendukungnya): "Mereka telah mengkhianatiku (rafaduni)," dan mereka menjadi seperti apa yang dikenal sekarang sebagai Rafida. Mereka juga yang menyiapkan Shia"a sebagai seseorang yang tidak menerima kepamimpinan 'Uthman atas 'Ali (semoga Allah memberkahi keduanya), dimana para Rawafid adalah yang (lebih aktif) mendukung kepemimpinan dari 'Ali atas 'Uthman (semoga Allah memberkahi keduanya). Termasuk di antara Shia'a adalah Qat'iyya (Positivists -rasionalist), mereka yang disebut itu karena pernyataan kepastian (qat') mengenai kematian dari Musa ibn Ja'far. Juga termasuk di antara mereka adalah Ghaliya (extremists), mereka di sebut itu karena terlalu fanatik berlebihan mencintai (ghuluww-devotion) Ali, semoga Allah memberkahinya, dan dengan perbuataan yang tidak pada tempatnya mereka memberikan atribut-atribut keTuhanan (rububiyya-Lordship) dan keNabian (Nubuwwa) pada Ali, semoga Allah memberkahinya.Nama dari penyusun yang mengkompilasi tulisan buku-buku mereka adalah: Hisham ibn Hakam, 'Ali ibn Mansur, Abu'l-Ahwas, al-Husain ibn Sa'id, al-Fadl ibn Shadhan, Abu 'Isa al-Warraq, Ibn ar-Rawandi and al-Maniji. Pusat terbanyak konsentrasi mereka dapat ditemukan di dikota-kota seperti Qum dan Qashan (di Iran) dan di daerah Idris dan Kufa (di Iraq).

dhimmi: seorang dhimmi adalah seseorang yang memilih tinggal di dalam masyarakat muslim di bawah hukum Islam sementara dia tetap bukan orang Islam, berarti mendapat jaminan keselamatan dari segala bentuk pelecehan atau rongrongan agama.

fuqara: sebutan untuk murid-murid Shadilliya-Darqawi, berasal dari kata faqir. Wali dari Bahlil berkata: ‘Fuqara adalah sekumpulan semak-belukar.’ Shaykh Abu Madyan berkata: ‘Kenikmatan hidup hanya jika berkumpul dengan fuqara - merekalah para sultan, para tuan dan para pangeran.’ Si faqir adalah dia yang telah berpaling dari kesia-siaan pencarian dunia ini dan melangkah pada pencarian atas al-Haqq, yakni rahasia keberadaannya sendiri. Syarat pertama bagi pencarian ini adalah dia harus berkumpul dengan khalayak yang juga ingin memperoleh ilmu ini. Untuk masuk kalangannya berarti harus susah dengan kesulitan-kesulitan mereka dan gembira dengan keberhasilan-keberhasilan mereka. Awalnya si faqir melihat kesalahan-kesalahan para faqir lain. Ketika ia menyadari bahwa mereka baginya serupa sebuah cermin - sebagaimana makna sebuah hadist terkenal - ia berhenti melawan mereka dan cinta mulai bersemi di hatinya bagi para pecinta Allah. Dengan cara inilah ia mendekati Shaykhnya. Si faqir miskin dalam Allah, dan cukuplah Allah baginya dalam kemiskinannya (di ambil dari 100 langkah, Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi). Shaykh Abdal Qadir As-Sufi pernah menulis: “Sebenarnya tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi. Ketika hanya sedikit manusia yang mampu mencapai tingkat tertentu, namun mereka tidak pernah mendakwakan diri sebagai kelompok terpilih (elite). Sebenarnya mereka ini telah mencapai tingkatan kemuliaan (maqam al- mahmud). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berkata: “Wahai kaum faqir, hanya karena engkaulah aku diutus Allah untuk menyampaikan ajaran-Nya di bumi ini,” juga sabdanya: “Kefaqiran adalah kemuliaanku,” dan “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang faqir.”

sallallahu ‘alayhi wa sallam: Salutation for the Messenger of Allah, meaning ‘may Allah bless him and grant him peace’.

faqih: (jamak: fuqaha) Ahli pengetahuan hukum Islam, yang dengan pengetahuannya memiliki wewenang untuk memberikan pendapat ataupun fatwa

fatwa: Ketetapan tentang hukum Islam yang dikeluarkan oleh seorang faqih yang berwenang

freemansory: Kelompok elit (sedikit) yahudi yang mengajarkan gagasan-gagasan palsu tentang humanisme, seperti persaudaraan antarmanusia, toleransi beragama, serta universalisme yang bukan berlandaskan kepada TAUHID. Retorika lain yang mereka gunakan adalah penghargaan atas pluralisme dan persamaan hak.

fiqh: Pengetahuan tentang penerapan ajaran agama

sosialisme: kapitalisme dalam perspektif lain, yakni kapitalisme negara.

Illuminati: I. Member of a group of people claiming to be particularly enlightened. Religious sects and secret societies have at various times called themselves illuminati, and there are persistent myths about such groups masterminding world events.
II. The Spanish illuminati (aluminados) had beliefs derived from gnosticism and were suppressed by the Inquisition during the 16th century. They also established themselves in Picardy and elsewhere in France during the 17th century, and lasted in isolated bodies until the end of the 18th century.
III. A secret masonic society with republican views was formed in 1776 by Adam Weishaupt, professor of canon law at Ingolstadt, Bavaria. This group, called illuminati because they claimed exclusive right to the illumination of Jesus, was anti-jesuit, and was suppressed in 1785.

Kesultanan Nusantara
In Brunei:

In China:

Furthermore, the Qa´id Jami al-Muslimin (Leader of the Community of Muslims) of Pingnan Guo ("Pacified South State", a major Islamic rebellious polity in western Yunnan province) is usually referred to in foreign sources as Sultan

In Indonesia (formerly in the Dutch East Indies):

  • on the Riau archipelago: sultanate of Lingga-Riau by secession in 1818 under the expelled sultan of Johore (on Malaya) Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah ibni al-Marhum Sultan Mahmud

In Malaysia, 9 states out of 13 states are sultanates, all on the Malay peninsula:

In the Philippines:

In Thailand (Siam):

Contemporary sultanates
NASEHAT DARI ORANG ASING
"Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt. serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekah emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka dan mereka juga memotong lehermu?" Para sahabat bertanya,"Apakah itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Dzikir kepada Allah swt" (Hr. Baihaqi)

Sufi dari syam menyampaikan: "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah" (al-Baqarah-273)

Wahai orang-orang beriman! jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antaramu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang (49:12)

Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka, Katakanlah, "Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar" (49:17)

Donasi Islam Hari Ini

Semua yang kami kerjakan ini adalah bagian dari pelayanan kepada muslin di Nusantara dan dunia untuk menyenangkan Allah dan rasul-Nya, bagi muslim yang ingin membantu dengan sedekah dan wakaf tunai silahkan hubungi kami di info@dinarfirst.org

DISCLAIMER
Semua isi tulisan dalam site ini adalah untuk Muslim Nusantara, Muslim seluruh Dunia dan non-Muslim.

Tidak diperbolehkan mengkopi sebagian atau keseluruhan isi atau melakukan perubahan pada isi artikel tanpa izin tertulis, baik melalui e-mail atau fax 62.21.75900412, Ribat Rasulullah

Kami mengizinkan isi website ini di sebarluaskan, dalam bentuk media cetak, elektronik atau CD selama tidak melakukan perubahan terhadap sebagian atau keseluruhan isi artikel dan tidak mengganti nama penulis atau sumber artikel, dengan permohonan permintaan ijin tertulis atau melalui e-mail kepada editor islamhariini.wordpress.com, info@dinarfirst.org

bagi muslim yang tergerak dan telah sadar tentang pentingnya memerangi riba dan ingin membantu berfisabilillah dengan hartanya silahkan bantu kami pada setiap bulannya atau kapan saja kepada: BCA acc no. 2861386564 atau datang langsung ke Ribat Rasulullah

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers

%d bloggers like this: