BAGAIMANA CARANYA KITA MENCAMPAKAN SISTEM PERBANKAN

bank, dinar, riba

kita harus merubah cara berpikir kita untuk dapat memandang islam sebagai dien yang hidup tidak pasif dan statis, islam itu bukan agama, islam itu dien (cara hidup yang fitrah), islam seperti sebuah ayakan (penyaring) penapis sehingg yang buruk hilang dan dan tinggallah yang baik, islam itu selalu sesuai di setiap masa, bukan islam yang dirubah tapi perilaku kita yang harus dirubah agar sesuai dengan dien islam (Allah dan rasulNya). saya sampaikan tulisan penting ini mudah-mudahan bisa menjadi titik balik bagi yang mencari-cari apa jalan keluar dari kegilaan riba ini. masih mau perbankan, perbankan syariah ataupun asuransi islam?…pilih jalan yang lurus…buka hatimu! rubah dirimu…

BAGAIMANA CARANYA KITA MENCAMPAKAN SISTEM PERBANKAN

Pertama, mari kita pahami dahulu bagaimana cara kerja bunga bank. Bank-bank itu berfungsi seolah penyebar ulang uang yang berasal dari simpanan kita. Bank mendapatkan uang dari kita semua, lalu meminjamkannya pada orang lain. Bank tidak meminjamkan uang tersebut kepada sesiapa yang paling jujur, atau kepada proyek usaha mana yang paling bermanfaat bagi masyarakat. Bank tak peduli hal itu. Bank-bank hanya akan meminjamkan uang kepada sesiapa yang memiliki agunan yang memadai, tak peduli apapun tujuan usahanya. Boleh jadi usaha itu sangat bejat, namun asalkan anda punya agunan maka anda akan mendapatkan pinjaman. Sebaliknya, walau seseorang memiliki proyek yang sangat menjanjikan, bisa jadi tidak akan dapat pinjaman karena dia tidak mempunyai agunan yang memadai. Jelas ini bukanlah sistem terbaik bagi masyarakat. Sistem terbaik dan teradil bagi masyarakat adalah, jika sistem itu bisa menjamin bahwa modal milik masyarakat akan ditanamkan pada proyek-proyek terbaik, terlepas dari apakah si pengusaha itu kaya atau tidak.

Dikatakan pada para pekerja: Kamu tidak boleh mengelola bisnis-bisnis besar, karena terus terang saja siapa sih kamu? Kamu tidak punya uang. Kamu hanya boleh bekerja demi upah. Maka tak heran jika berduyun-duyun pekerja lebih sungguh-sungguh membina hubungan suci mereka dengan bank, ketimbang hubungan mereka dengan agamanya, bahkan biasanya banklah yang menjadi keyakinan pegangan mereka. Adapun sistem adil yang disebutkan barusan, hanya bisa dicapai dengan penggunaan tertib kontrak gaya baru, yaitu kontrak-kontrak yang mengaitkan keuntungan bagi hasil investasi kepada kegiatan usaha itu sendiri, dan bukan kepada bunga.

Ketika bank-bank belum berdiri, kontrak-kontrak yang berlaku dalam perdagangan adalah kontrak-kontrak dari commenda dan perkongsian.

Commenda adalah kontrak peminjaman uang untuk usaha, dengan demikian akan ada untung atau rugi. Cara ini bertentangan dengan kontrak ribawi, di mana bank meminjamkan uang tanpa peduli kemungkinan kerugian usaha, bank hanya mau untungnya. Dalam kontrak ribawi, anda tidak menanam modal demi kepentingan usaha, melainkan demi keuntungan dari kontraknya saja. Bunga atas pinjaman sama dengan menyewakan uang, walaupun pada uang tidak ada “benda” yang bisa disewa. Bunga adalah mengeduk untung tanpa memberi manfaat apapun.

Bentuk kontrak lainnya adalah perkongsian. Inti sari perkongsian adalah pengalihan tanggung jawab atas barang/jasa kepada orang lain, dan orang lain pun melakukan hal yang sama kepada anda. Dalam pengalihan barang/jasa dari orang ke orang ini, kita akan menemukan dasar-dasar dalil yang revolusioner: membangun usaha tanpa perlu modal keuangan, artinya melakukan usaha tanpa harus memiliki modal atau memiliki usahanya. Ini adalah sesuatu yang tidak terpikirkan oleh manusia modern. Menakjubkan! Dahulu usaha-usaha biasa berlangsung tanpa bergantung pada modal. Perkara ini tidak ada kaitannya dengan sistem Bursa Saham yang busuk itu, melainkan berkaitan dengan pembentukan guilds sebagai badan-badan pemodal mandiri non formal, yang kini sudah dipunahkan oleh bank-bank. Kabar barunya adalah bahwa untuk menjadi pengusaha, anda tidak perlu jadi pemilik barang/jasa. Anda tidak memerlukan bank, yang anda perlukan adalah orang. Ini kabar buruk bagi bank-bank. Sistem sedemikian dapat berfungsi bila di antara kita ada sifat saling percaya. Dan sifat inilah yang menyebabkan kita dapat mandiri, hingga tak perlu bekerja demi upah. Sifat ini pula yang menjadi syarat hidupnya sistem commenda dan perkongsian. Dan semua ini adalah dasar-dasar bagi tegaknya pembaharuan dunia.

Bagaimanakah cara bank-bank menghapus sistem kontrak commenda, dan menggantinya dengan pinjaman berbunga? Dan bagaimana pula bank-bank dapat menjelmakan orang-orang yang bersyarikat dalam perkongsian menjadi orang-orang pengais upah?

Bank-bank menciptakan barang baru. Mereka ciptakan sistem uang kertas. Bahkan perbankanlah sistem uang kertas. Pada awalnya, kemampuan sistem ini cukup menakjubkan. Bank-bank dapat menarik 1000 pound emas dan kemudian meminjamkan 20 kali lipatnya; yaitu 20.000 pound dalam bentuk kertas, artinya menciptakan kredit dari nihil. Pada masa itu, bank-bank (yang semuanya dikuasai oleh para Yahudi) diundang ke mana-mana di Eropa, karena mereka bisa mendatangkan uang dari nihil. Pada awalnya masyarakat terpesona, sebab mendadak di kota ada perputaran uang yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Usaha-usaha baru pun bermunculan di mana-mana. Bahkan bank menawarkan kertas-kertas yang bertuliskan angka-angka yang bernilai lebih tinggi dari emas yang hendak ditukarkan. 10 pound kertas diobral untuk ditukar 5 pound emas. Tak seorangpun bisa tahan godaan ini. Namun masalahnya, uang kertas itu bagaikan candu, efek pertamanya hebat lalu anda akan kecanduan. Dan beberapa tahun kemudian, ketika badai telah berlalu, baru khalayak sadar bahwa kini semua uang emas telah dikuasai oleh segelintir orang baru, sedangkan khalayak sisanya tidak lagi punya uang emas. Dan ketika khalayak menyerbu bank untuk menukarkan kembali lembaran-lembaran kertas itu dengan emas, diumumkanlah bahwa nilai uang kertas telah anjlok, bahwa mereka hanya bisa memperoleh emas senilai 1/100 dari nilai tertulis di kertas, atau pilih untuk terus memakai kertas-kertas itu. Khalayak telah ditipu. Kini, atas nama peradaban, proses yang sama pun sedang berlangsung di Nigeria utara. Mari kita tegaskan: Inflasi yang diakibatkan oleh pemaksaan satu alat tukar (yang dikendalikan oleh bank) adalah perampokan. Dan tidak mengijinkan khalayak untuk memilih alat tukarnya sendiri adalah penipuan.

Tingkat suku bunga perbankan telah membasmi usaha-usaha kecil. Mereka telah mengumpulkan lautan harta (uang-kredit) dan telah merekayasa penyalurannya hanya kepada perusahaan-perusahaan besar milik segelintir orang. Mereka tidak membuka kesempatan secelah pun bagi tumbuhnya perkongsian. Seluruh revolusi teknologi yang katanya demi manusia, telah dibajak oleh sistem perbankan dan dijelmakan jadi monster biadab. Dahulu ketika Eropa sibuk menjajah, masalah perampokan abadi dengan menggembosi nilai uang kertas ini tidak terlalu mencemaskan khalayak, karena berhasil diredam oleh pasokan besar-besaran aneka jarahan dari koloni-koloni jajahan, sehingga mengesankan bahwa keadaan baik-baik saja. Akan tetapi begitu hutang koloni-koloni di Dunia Ketiga itu mencapai titik jenuhnya, artinya mereka sudah tidak bisa dijarahi lagi, maka bahaya laten sistem ribawi itu mulai bangkit menyusupi rumah mereka sendiri. Jadi di masa kini, bukan hanya Dunia Ketiga saja yang hidup tertekan ditimpa hutang abadi, khalayak di Dunia Pertama pun kini sudah hampir gila menghadapinya.

Kita semua telah dijadikan kacung oleh sistem perbankan, karena mereka memusnahkan kesempatan hidup usaha-usaha kecil, dan lebih-lebih lagi, mereka telah menjadikan kita sebagai penghutang-penghutang abadi. Gara-gara Negara berhutang, kita pun terlahir sebagai penghutang (bagaikan “dosa asal”), dan dengan kemampuan mereka memonopoli dan merekayasa kekuatan-kekuatan pasar, mereka menjamin bahwa semua upah yang akan mereka keluarkan untuk anda selama 20 tahun mendatang, akan tersedot kembali kepada mereka (para Majikan) karena anda membayar cicilan rumah yang harganya sudah dipompa berkali lipat. Kalau tidak mau begini, anda bisa menyewa rumah anda dan tak perlu punya apa-apa, cukup para Majikan saja yang memiliki segalanya, dan cukup anda saja yang bekerja.

Tentu ini adalah tawaran yang sangat busuk. Serikat-serikat Buruh tidak akan membela para pekerja. Mereka akan berusaha agar para pekerja masuk kerja terus. Semua partai politik adalah dagelan dan tak akan mampu benar-benar membawa pembaharuan bagi masyarakat, karena semua kebijakan mereka bergantung pada bank. Sebelum kita belajar untuk hidup tanpa bank-bank, kita akan terus menjadi kacung-kacungnya. Kepercayaan adalah ajang di mana kontrak-kontrak commenda dan perkongsian bisa berjaya lagi. Dan ajang itu hanya bisa digalang dengan menerapkan kontrak-kontrak usaha yang tidak bergantung pada bank, melainkan cukup pada wewenang seseorang yang mandiri dan mewakili khalayak. Dengan kata lain, kita harus menghidupkan kembali bentuk-bentuk wewenang tradisional yang bersifat lokal, misalnya seperti Kepala-kepala marga di Skotlandia, Kepala-kepala suku di Afrika, para Lendakari di lembah negeri Basque, Amir-amir di Arab, atau seperti kepala-kepala keluarga mafia di Sisilia. Kepemimpinan masyarakat yang kini dikuasai perbankan harus direbut kembali. Jika kita sadar bahwa bank-bank telah menipu kita dan kita ingin terbebas darinya, maka kita harus mengalihkan tumpuan kepercayaan kita kepada pihak lain. Pada akhirnya sang pemimpin sebuah masyarakat harus bisa menjamin penyelenggaraan hukum-hukum dan dipenuhinya kontrak-kontrak, sehingga tumbuhlah saling percaya antar warga. Salah satu contoh yang kurang baik ini adalah Mafia. Sayangnya, tinggal merekalah satu-satunya kaum di Eropa yang dapat membuat kontrak di antara mereka, dengan kepemahaman bahwa kontrak itu akan dipenuhi. Karena tak ada seorangpun yang berani berbuat keliru, dan khalayak Mafia punya rasa saling percaya yang sangat tinggi, dengan cara mereka sendiri yang tidak mungkin dilaksanakan di luar lingkaran mereka. Sayang, tinggal merekalah satu-satunya kaum di Eropa yang bisa mengejawantahkan kepemimpinan.

Unsur terpenting untuk terbebas dari tirani sistem moneter bank dan aneka praktek ribawinya, adalah dengan adanya pihak yang diberi wewenang secara lokal, yaitu dalam jangkauan masyarakatnya. Tanpa adanya pengemban amanah itu, banklah yang akan berwenang, yang akan mendikte langkah-langkah kebijakan semua bangsa, dan kita akan terkutuk jadi kacung-kacung upahan mereka. Jika anda ingin keluar dari perangkap ini, anda harus bergabung bersama mereka yang sepaham, pilihlah seorang pemimpin (amir) dan nyatakanlah diri anda merdeka dari jeratan riba. Di luar sana, banyak orang sedang melakukan hal yang sama.

Satu-satunya jalan keluar dari sistem ribawi adalah Islam. Karena hanya Islamlah yang menegakkan pemerintahan tanpa negara dan perniagaan tanpa riba. Zaman yahudi dan kristen telah kadaluwarsa. Hanyalah dengan memahami bahwa “tiada tuhan selain Allah”, baru manusia bisa berhenti menyembah segala sesuatu yang fana – seperti negara, uang dan pekerjaan mereka – dan menjadi merdekalah mereka. Hanyalah dengan membenarkan bahwa “Muhammad ialah Utusan Allah”, baru akan tegak keadilan dalam transaksi. Pilih Islam atau Ekonomi, pilih Islam atau Sistem Perbankan, inilah keputusan yang harus diambil oleh setiap insan.

Explore posts in the same categories: Esoteric Deviation In Islam

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Comments on “BAGAIMANA CARANYA KITA MENCAMPAKAN SISTEM PERBANKAN”

  1. Hari Says:

    Saya tertarik dengan ulasan/artikel ini,…sangat menarik, adakah asosiasi bankir muslim di Indonesia? Adakah mereka juga melakukan pencerahan dan informasi seperti ini kepada masyarakat kecil, terutama pelaku usaha kecil agar mereka tak terlibat dalam sistem riba perbankan? Saya punya banyak contoh pelaku usaha kecil yang justru hancur setelah pinjam uang di bank, bukannya malah menjadi besar. Sementara, media terbiasa memunculkan kisah sukses pengusaha kecil yang sukses setelah meminjam uang bank.

    Adakah wacana sistem riba seperti tulisan di atas di share juuga kepada para wartawan?

    Saya terlalu banyak bertanya, tapi saya interest dengan artikel ini.

    Salam

  2. fuqara Says:

    assalmualaikum mas hari,

    terimakasih commentnya yang menambah semangat kami, pertama ini bukan artikel, karena sedang dikerjakan dengan ijin Allah.

    bankir islam (atau apapun sebutannya) sendiri adalah bagian dari sistem riba itu sendiri, selama mereka (bankir islam) tidak mau mengerti arti riba dalam kitab fiqh yang bersumber kepada amal madinah seperti al-muwatta maka ya mereka sibuk dengan perbankan shariah yang tidak shariah tersebut.

    silahkan tolong ceritakan saja contoh pelaku usaha kecil yang hancur karena pinjam uang ke bank, akan saya muat (asal akurat sumbernya, terimakasih)

    para so called pelaku bank shariah ini malah membuat teori-teori baru mengenai mainan baru mereka yaitu bank shariah, asuransi shariah, kartu kredit shariah yang semuanya sama saja, pada sakit jiwa. maaf bahasa saya. (silahkan detail sejarahnya anda baca dalam salah satu tulisan di website ini).

    ya saya rasa bukan hanya pelaku usaha kecil saja yang hancur, tapi keseluruhan bangunan perdagangan, keseluruhan sistem sosial masyarakat muslim kita hampir hancur hari ini. lihat tidak pemerintahan hari ini.

    media yang ada sekarang ini juga adalah bagian dari sistem riba itu sendiri, wartawan saya rasa jarang sekali yang mengerti tentang ini secara utuh, malah mungkin tidak ada wartawan yang mengerti, kalaupun mereka mengerti (sebagian kecil), apa mereka bisa bicara dan memuatnya secara terus menerus?

    dari satu dunia ini hanya segelintir orang saja mengerti secara utuh tentang apa itu dinar-dirham dan keseluruhan domainnya, yang kita tengah kerjakan dan di beritahukan kepada muslim agar segera meninggalkan sistem kapitalisme-riba ini yang segera hancur

    silahkan bertanya ataupun bertemu saya, tularkan ini semua kepada orang-orang yang mau merubah dirinya dan mau keluar dari kegilaan sistem riba ini.

    mungkin di indonesia ini hanya kurang dari 20 jari yang mengerti pentingnya dinar-dirham ini segera dikerjakan secara utuh tanpa tercampur sistem kapitalisme-riba (semoga Allah menambahkan dan mengumpulkan orang-orang yang mau berubah bersama saya untuk mengerjakan ini semua. amin!).

    untuk keluar dan mengerjakan semua ini, pertama anda dan saya harus kembali duduk bersama orang-orang yang menyeru Allah pagi dan petang (berdzikir dan submit to Allah) dan berkumpul bersama para fuqara yang aktif dan membantu Amir-Amir yang menjalankan ini semua. (nusroh Allah pasti turun)

    masya Allah! lahawla wala quwatta ila billah

  3. Adi Says:

    Seperti bapak ketahui selama kita masih tinggal di negara yang menggunakan uang fiat, lalu apa cara terbaik untuk melakukan transaksi sehari2?

  4. fuqara Says:

    cara terbaik dengan memakai sistem bimetal, proses ini akan terus berjalan, di indonesia sudah dicetak dinar-dirham pada tahun 2000. memang pada keseharian kita masih masih memakai fiat money (karena proses perpindahan ini tidak bisa ekstrem, karena sebagian besar orang masih terkena sihir uang kertas (riba), nah muslim yang sudah sadar akan bahaya dan dosa riba ini segera berkumpul dengan amir-amir yang telah memberlakukan pencetakan koin-koin emas dan perak, ya langsung saja dipakai koin terseut dengan orang-orang yang telah mengerti, juga mengajak pedagang bahan pokok atau pedagang lainnya untuk menggunakannya. silahkan saj dimulai…

    intinya begini kalau ada orang yang sehari-harinya biasa makan yang haram, bagaimana cara terbaik untuk tidak makan yang haram? ya orang tersebut harus meninggalkan kebiasaannya itu, lalu segera mencari makanan yang halal.


Comment: