AKAR PENDIDIKAN MODERNIS

abbas_lukis2.jpg

AKAR PENDIDIKAN MODERNIS
Sebuah rangkuman yang saya ambilkan dari buku Heidegger for Muslim: sisi gelap dari renaisans.

Modernisme
Apa yang kita kenal hari ini sebagai modernisme adalah tidak terjadi begitu saja, modernisme dimulai pada abad 16 dengan momentum Renaisans (kelahiran kembali) sampai pada puncaknya dengan pencerahan (enlightment) dan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 18.

Sebelum renaisans masyarakat (barat) telah merasa puas dengan pandangan dunia yang didasarkan pada wahyu ilahi, segala bentuk aktivitas manusia dipusatkan untuk pengabdian kepada Tuhan, dan diyakini segala tindakan seseorang harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Kemudia datanglah filosofof yang mengajarkan bahwa pada tiap diri manusia berlaku hukum alam yang dapat di dekati dengan nalar, Tuhan diposisikan sebagai penyebab sekunder, inilah yang dikemudian hari terus berjalan menjadi cara berfikir rasionalisme, manusia hari ini mengukur kebenaran, bahkan satu-satunya kebenaran dengan apa yang kita kenal hari ini sebagai kebenaran ilmiah. Kebenaran metafisik (istilah metafisik atau metafisika yang dimaksud disini adalah kebenaran dalam pengertian konvensionalnya sebagai sesuatu yang di luar cerapan inderawi) menjadi tidak masuk akal dalam pemahaman –ilmiah- yang terbatas, kebenaran metafisik menjadi kian terpinggirkan dan akhirnya diabaikan sama sekali.

Logika dijadikan satu-satunya sandaran dasar pencarian kebenaran, sesuatu yang tidak logis (tidak terukur dengan kebenaran ilmiah tersebut) menjadi tidak riil, tidak dapat dibuktikan secara empiris, berarti tidak ilmiah, berarti tidak dapat dibenarkan. Empirisme dan metode ilmiah yang dikembangkan para ilmuwan dianggap telah mampu memeberikan penjelasan tentang semua fenomena alam. Campur tangan Tuhan di alam semesta, dan eksistensi dunia spiritual dienyahkan dari realitas kehidupan dan alam. Manusia menjadi mahluk rasional semata, jika apa yang disebut sebagai fakta ilmiah tampak bertentangan dengan nas wahyu, maka wahyu ditolak (lebih jauh lagi malah dipertanyakan) demi kepentingan sains. Inilah dimulainya jaman kegelapan dari masa pencerahan. Manusia modern adalah manusia egois dan nihilistik bertentangan degan al-Quran, manusia modern melupakan makna rubbubiyah-nya.
—————————————————————————————————————-

Seperti yang telah kita bisa baca dalam esai sebelum ini yang berjudul padangan dualitas dalam website ini maka bagian berikutnya mencoba semakin mengkristalkan kepada apa yang terjadi dengan islam hari ini yang di hadapi muslim hari ini, yang dengan tidak sadar telah mengadopsi apa disebut dengan cara hidup modern.

Bagian ini sangat penting untuk dimengerti bagi orang-orang yang mengaku telah pergi sekolah ataupun dikatakan ‘intelektual’ atau ’sarjana’  dan orang umunya tentang apa yang disebut ilmu, berfikir ataupun ilmiah tidak lain adalah sebuah penjara ketololan. Tanda seseorang telah mengerti adalah dia melakukan perubahan dengan mengamalkannya!

Pengaruh Ilmu Pengetahuan Alam
Sejalan dengan tersingkapnya filosofi ini, dengan selubung yang tidak terpisahkan darinya, kita menemukan ekspresi praktis di dunia luar pada tangan-tangan ahli-ahli filsafat kealaman yang memilih riset dan eksperimen praktis dan teori ilmiah sebagai bidang kiprah mereka. Mereka semula merupakan pakar-pakar astronomi, lalu beralih menjadi ahli fisika dan akhirnya menjadi insinyur sejalan dengan penerapan filsafat baru yang menjadi semakin ditujukan pada pengendalian dan dominasi atas tatanan alam.

Sekali lagi keseluruhan proses ini dilekatkan pada sejumlah tokoh terkemuka yang melambangkan jiwa dan waktu mereka untuk memanfaatkan apa yang dalam lingkungan ini yang boleh jadi, dalam situasi mereka, bukan merupakan ekspresi yang paling tepat! Copernicus, Galileo, Newton, inilah nama-nama yang menonjol dalam kancah dunia ilmiah.

Dalam karyanya, The Revolutions of the Celestial Spheres, ahli astronomi Polandia Copernicus seorang diri memisahkan diri dari pandangan tradisional tentang semesta. Sebelumnya manusia selalu memandang bumi tempat mereka tinggal sebagai pusat stasioner eksistensi fisik, di seklilignya matahari, bulan, planet-planet dan galaksi-galaksi berputar pada berbagai orbit. Dalam sistem pandang a la Copernicus bumi menjadi hanya semata-mata satu dari beberapa planet yang mengorbit mengelilingi matahari dan sistem tata surya ini, satu di antara sistem lain yang tak terhitung jumlahnya dalam sebuah kemahaluasan tak terbayangkan. Umat manusia berubah posisi, dari keberadaan secara fisik yang menjadi poros kehidupan semesta menjadi sekadar satu spesies tanpa makna yang hidup entah di mana dalam sebuah ruangan tanpa batas. Teori Copernicus ini, yang didasarkan pada observasi terbatas dan dia sendiri enggan mempublikasikannya semasih dia hidup, merupakan batu landasan segala kemajuan ilmiah yang mengalir dengan deras dan cepat sejak saat itu. Dia memiliki pendirian yang sama dalam jalur ilmiah yang ditempuh Bacon dalam aspek filosofi yang telah membuka jalan bagi semua orang yang mengikuti di belakangnya.

Galileo dari Italia mengambil apa yang ditinggalkan oleh Copernicus. Teleskop hasil temuannya memungkinkan dirinya secara efektif dan mengagumkan memperlihatkan kefaktaan (facticity) teori Copernicus dan membuktikan balik akan banyaknya penyimpangan-penyimpangan skolastik ke dalam dunia sains alam. Misalnya dengan bukti visual tentang permukaan bulan yang berkawah-kawah dia mematahkan teori permukaan mulus sempurna yang telah menjadi poros padangan skolastik tentang semesta fisik, sambil memperlihatkan tanpa keraguan bahwa semesta fisik berbeda dari apa yang telah dinyatakan berdasar spekulasi metafisik. Sekalipun dihalang-halangi oleh otoritas gerejani karena penyingkapan-penyingkapan yang mengguncang kepercayaan, begaimana pun juga Copernicus memastikan kematian orde lama.

Bagaimana pun juga, dia mungkin memberikan sumbangsih yang lebih bermakna pada upaya pengilmiahan dunia dalam bidang mekanika. Dengan menjatuhkan benda-benda dari Menara Miring (Pisa) dan mengamati sebuah kandil yang berayun-ayun pada sebuah gereja, kalau cerita ini benar, dia menohok gagasan-gagasan yang akhirnya membuktikan bahwa sebenarnya bumi sedang hancur! Untuk karyanya dalam hukum gerak dan momentum dan penemuan-penemuannya dalam bidang mekanika ini telah membentuk landasan kerja yang menjadi dasar semua perkembangan berikutnya. Terhadapnya juga dapat ditalikan bentuk modern eksperimen ilmiah dengan koleksi data dan analisis berikutnya.

Cukup aneh, terdapat korelasi antara Galileo dan ahli filsafat kedua kita, Descartes. Dengan karyanya dalam bidang matematika dan fisika Galileo menyatukan langit dan bumi yang sebelumnya dianggap sama sekali tidak saling tergantung sebagai bidang-bidang eksistensi. Dia menyatukan apa yang sebelumnya telah dipisahkan. Sebagaimana yang sudah kita catat, Descartes memisahkan raga dan jiwa, dengan demikian memisahkan apa yang sebelumnya dianggap pernah menjadi satu. Tetapi penyatuan oleh Galileo dan pemisahan oleh Descartes pada kenyataannya memberi hasil yang sama, menjauhkan manusia dari alam jiwa.

Yang ke-tiga dari tiga-serangkai ahli filsafat saintis- eksponen praktis filsafat baru yang berasal dari Inggris- adalah Isaac Newton, yang dikait-kaitkan dengan penemuan mengagumkan fakta bahwa jika anda duduk di bawah sebuah pohon apel di dalam kebun buah di awal musim gugur kepala anda sangat besar berpeluang untuk kejatuhan sebuah apel yang lepas dari tangkainya. Entah ya entah tidak, kisah ini hanya merupakan legenda, yang pasti telah menggantikan apa yang tertinggal oleh Galileo, maupun pakar astronomi lain Kepler. Newton membuat formulasi apa yang dia sebut sebagai hukum gravitasi universal dan tiga hukum fundamental mekanika, untuk kemajuan tak terhitung dalam pengetahuan sains, bahkan akhirnya menghancurkkan lingkungan alam maupun manusia.

Karyanya dalam ilmu cahaya dan optika serta penemuannnya dalam kalkulus, merupakan piranti yang sangat diperlukan dalam banyak penemuan berikut, yang tanpa ragu-ragu bermakna. Tetapi magnum opus-nya adalah Principia Mathematica. Di dalam buku ini dia merumuskan hukum-hukum mekanika dan gravitasi, yang terbukti merupakan karya fundamental untuk seluruh sains modern. Ada beberapa orang yang telah mengubah persepsi demikian banyak orang tentang universum tempat mereka tinggal. Setelah Newton misteri menghilang dari alam semesta. Saat segala hal menjelaskan dirinya sendiri dalam arti saling bergantung satu sama lain, secara internal swa-konsisten (self-consistent), gaya-gaya interaktif tidak memerlukan stimulus ekstra-universal. Dia memenuhi peran yang sama dalam ranah ilmiah sebagaimana dilakukan oleh Hobbes dalam filsafat. Setelah Newton tidak ada lagi kebutuhan akan Tuhan; semua hal secara sempurna dapat dijelaskan tanpa campur tangan Ilahi. Tuhan telah dienyahkan dari universum fisik.

Dampaknya pada Kita
Lantas apa urusannya, hal ini mungkin ditanyakan, semua perkara tentang ahli filsafat saintis dan saintis-ahli-ahli filsafat abad ke-16 dan ke-17, dengan orang awam pada saat ini? Jawabannya: nyaris semua hal. Sebagaimana sudah penulis singgung orang-orang ini menjelaskan secara rinci dan memberi contoh cara pandang terhadap eksistensi yang dengan cepat menyebarkan diri sendiri melalui segenap strata sosial manusia dan masuk ke dalam segala lapisan aktivitas manusia. Sebelum kehadiran pandangan mereka manusia tinggal di pusat universum dengan matahari dan bulan serta bintang-bintang berevolusi mengitari bumi, di atasnya adalah lapisan surgawi aktivitas malaikat yang semuanya diliputi oleh Singgasana Tuhan, dengan Tangan yang tidak terlihat bergerak dan mengarahkan segala urusan. Sesudah mereka, orang tinggal pada satu massa mineral tanpa makna, bagian belaka dari sistem minor planet, satu dari yang tidak terhitung lainnya, sehingga hilang dalam ruang tanpa batas yang tak terbayangkan luasnya. Perspektif yang pertama benar secara metafisik tetapi tidak akurat secara empirik, yang ke-dua secara empirik benar tetapi secara spiritual dan psikologi dapat menimbulkan bencana.

Bagi umat manusia, hasil ini berdampak luar biasa. Keadannya persis seperti ketika seseorang tiba-tiba tercerabut dari sebuah lingkungan desa mungil dengan penduduk yang saling kenal satu dengan yang lain, dengan hierarki yang jelas dan tidak dipertanyakan, semua hubungan dijajal, teruji dan dipercayai, atmosfernya ramah, semua jalan-jalannya terjalin rapi, setiap dusun dikenal, semua nafkah kehidupan terjamin, dan kemudian menjadi keterasingan dan tanpa-pribadi dalam sebuah megapolis raksasa modern dengan jalan-jalan tandus yang tampaknya akan berlangsung selamanya, dengan semua sudut meskipun tidak dikenal, dengan energi dominan adalah ketakutan dan rasa tidak percaya. Bahkan terhadap tetangga dekat merasa sebagai orang asing.

Professor E.A. Burtt menulis tentang apa yang telah terjadi ini dengan mengatakan:

“Inilah konsekuensi terbesar kemenangan pemikiran kewenangan besar a la Newton berada di belakang pandangan tentang kosmos yang memandang manusia sebagai satu penonton kecil tidak relevan (sejauh ini dapat dikatakan sebagai makhluk yang terpenjara dalam ruang gelap) dari sistem eksistensi luas matematika dengan gerakan yang teratur sesuai dengan prinsip-prinsip mekanika yang menyusun dunia alam…Dunia yang dipikirkan oleh orang yang tinggal di sana sebagai sebuah dunia yang kaya warna maupun suara – sebuah dunia dengan harmoni penuh tujuan dan ideal kreatif tidak lagi eksis kecuali dalam imajinasi. Dunia riel yang ada di luar tercerap keras, dingin, nir-warna, bisu dan mati – satu dunia kuantitas, dunia gerak-gerak yang secara matematika dapat dihitung dalam keteraturan mekanika. . . . Dalam metafisika Newton a la Cartesius . . . akhirnya meyingkirkan Aristoteles dan menjadi pandangan-dunia baru yang mendominasi jaman modern.”

Seolah-olah telah berdiri sebuah dinding yang tak mungkin ditembus di antara yang spiritual dan yang material. Kepercayaan pada Tuhan, yang dulu merupakan bagian yang tidak terpisahkan, satu karunia, dalam situasi manusia kini paling banter menjadi sebagai pilihan tambahan saja, dan semakin sering tidak menjadi pilihan sama sekali. Tuhan menjadi sebuah hipotesis, sebuah abstrasi nirmateri, satu postulat filosofi, yang bergantung pada argumentasi untuk hakikat eksistensi-Nya. Dan karena cara para pakar sains menjelaskan fenomena alam, membuatnya semata-mata sebagai urusan analisis dan kalkulasi, pandangan unitarian yang benar tentang eksistensi, tawhid Qur’ani yang kita singgung pada awal tulisan ini, menjadi semua niat dan tujuan yang sama sekali tidak bisa diakses.

Umat manusia, karena pandangan dunia ilmiah tidak dapat ditawar menentukan dirinya sendiri dan menembus kesadaran manusia, menjadi terputus dari pengetahuan sejati. Kesadaran manusia menjadi terkurung dalam keterbatasan universum material. Tentu saja ada beberapa kekecualian – rahmat Tuhan tak pernah habis – tetapi mayoritas orang dalam kubu pandangan dunia ilmiah telah membuktikan satu kendala yang tidak dapat diatasi antara diri mereka dengan pandangan sejati tentang eksistensi.

Explore posts in the same categories: Esoteric Deviation In Islam

Comment:

You must be logged in to post a comment.