PANDANGAN DUALITAS

renaisans

bab 1_Heidegger for Muslim_sisi gelap renaisans

Pandangan Dualitas
Bersama-sama dengan munculnya ahli filsafat Perancis, Descartes, pemisahan antara agama dan sains oleh Bacon tersebut, antara dunia spiritual dan material, menjadi semakin mengeras dan meluas. Descartes menyatakan adanya dualisme dasar subjek/objek, ruh/materi. Manusia pun terdiri atas jiwa dan raga yang terpisah meskipun bagaimana sepastinya keduanya terhubung tidak pernah dipahamkan sepenuhnya. Manusia, menurut Descartes, merupakan jiwa yang berpikir (a thinking mind) yang terperangkap dalam satu jasad material yang memandang keluar ke sebuah dunia yang tidak dikenal. Descartes dengan tepat dapat disebut sebagai “bapak filsafat modern” karena hampir semua pemikir sesudahnya menjadikan pandangan atas eksistensi yang dirumuskannya sebagai titik awal.

Prestasi lain yang dielu-elukan dari Descartes ialah metode ilmiah yang terkenal itu, yang membentuk secara serupa dan sebangun dan membantu bentuk pandangan ilmiah yang tengah bangkit tentang eksistensi. Cara lama pada dasanya menganggap semua benda diyakini sebagai perwujudan kekuasan kreatif Ilahi. Tetapi titik awal Descartes merupakan skeptisisme lengkap berkenaan baik dengan opini-opini dan kepercayaan yang dicerap maupun data inderawi. Tidak ada yang dianggap benar sampai hal tersebut dibuktikan secara konklusif oleh pengamat sebagai sesuatu yang memang benar. Dia sendiri mengungkapnya:

“Jangan pernah menerima apa pun sebagai benar apa yang belum secara jelas saya ketahui memang benar. . . yang tidak menyusun apa pun lebih dari penilaian penulis yang tersaji pada pikiran yang begitu jelas dan gamblang sehingga menepis segala dasar keraguan.”

Dengan demikian dia membuat dirinya sendiri dan, dengan perluasan, nalar manusia pada umumnya, puncak ke-semaugue-an (ultimate arbiter) tentang apa yang benar atau tidak benar. Apa yang Descartes tinggalkan untuk kita adalah gambaran umat manusa sebagai satu jiwa yang terbungkus dalam satu jasad yang memandang sebagai subjek/pengamat pada sebuah dunia objektif/terpisah yang mengitarinya, yang harus dikendalikan dan melayani dirinya.

Dia mengatakan dalam risalah Discourse on the Method:

“Saya memiliki persepsi adanya kemungkinan untuk sampai pada pengetahuan yang sangat berguna dalam kehidupan. . . untuk menemukan satu pengetahuan praktis tentang gaya dan kerja api, air, bintang-bintang, langit-langit, dan semua jasad lain di sekitar kita. . . kita juga dapat menerapkan cara yang sama terhadap semua cara yang kita ambilpakai dan menyebabkan kita menjadi para penguasa dan pemilik alam.”

Manusia tidak hanya dipandang terpisah dari dunia material di luar dirinya, tapi pada dasarnya [harus dianggap] tidak dapat dipercayai dan semua data yang masuk harus menjalani penelisikan sebelum diakui sebagai layak dipercaya dan benar. Dia betul-betul merupakan ahli filsafat jaman baru sains, yang pada saat yang sama skeptisismenya menggerogoti cerapan inheren tentang pemeliharan Tuhan yang penuh kebaikan yang hadir sampai saat itu. Sehingga dari sebuah situasi ketika jiwa diberi preseden di atas materi kita bergerak bersama dengan Bacon menuju sebuah situasi dengan kebanggaan akan tempat yang diberikan pada materi, dan spiritual mengambil peran latar belakang.

Dengan Descartes, sisi spiritual eksistensi diceraikan dari sisi material dan dilenyapkan sampai jangkauan luar semesta. Keadaan ini merupakan satu langkah pendek menuju kesimpulan berdasar logika, tahap pamungkas proses tersebut, yang akan memisahkannya sama sekali dari kebersamaannya dengan yang spiritual. Posisi ini menemukan pengungkapannya dalam karya ahli filsafat Inggris, Thomas Hobbes.

Dengan kata-katanya sendiri Hobbes menyatakan:
“Semesta ini, yakni, segenap massa benda yang, bersifat jasadi, yakni, tubuh, dan yang memiliki aneka matra, misalnya panjang, lebar dan dalam; juga semua bagian tubuh serupa dengan tubuh, dan mempunyai matra-matra sejenis, dan konsekuensinya semua bagian semesta ini merupakan tubuh, dan apa yang bukan tubuh bukan bagian dari semesta; dan karena semesta ini semuanya, yang bukan merupakan bagian darinya bukan apa-apa alias tidak ada, dan konsekuennya tidak di mana pun.”

Dengan kata lain, apa yang dikatakan Hobbes ialah bahwa yang riel adalah eksistensi material dan apa pun yang bukan eksistensi material tidak riel. Pada faktanya apa yang Hobbes lakukan ialah memberi ekspresi pada apa yang dalam faktanya telah menjadi pandangan dominan tentang eksistensi yakni bahwa yang benar hanyalah yang dapat diverifikasi secara empirik. Keterbatasan cerapan indera manusia dalam kenyataannya menjadi keterbatasan eksistensi. Jika kita tidak dapat menimbangnya atau mengukurnya atau menetapkan waktunya atau dengan cara tertentu mengendalikannya, hal tersebut tidak riel. Hal ini berarti bahwa di masa Hobbes konsep mekanik-materialisme (mechanico-materialism) telah diterima sebagai satu catatan yang lengkap atas realitas.

Pandangan eksistensi ini, sudah pasti, memiliki implikasi-implikasi mendalam atas cara manusia dipersepsi. Dari menjadi seorang tawanan di dalam tubuh, manusia tidak sepenuhnya diidentifikasi melalui tubuh tersebut. Hobbes kembali menulis:

“Pada saat kita mengatakan bahwa ’seorang manusia merupakan jasad hidup,’ kita maksudkan bukan bahwa ‘manusia’ tersebut merupakan satu hal, ‘jasad hidup’ hal yang lain, dan yang ‘merupakan’ atau ‘adalah’ hal yang ke-tiga; tetapi ‘manusia’ dan ‘jasad hidup’ merupakan hal yang sama.”

Dengan pandangan Hobbes matra spiritual eksistensi apakah pada manusia atau semesta, mikrokosmos atau makrokosmos, sama sekali tidak diakui. Eksistensi dunia spirit telah berhenti.

Hal ini juga mendatangkan implikasi-implikasi mendalam pada bidang sosial dan politik kehidupan manusia. Dalam pandangan lama kewenangan mutlak sinonim dengan Tuhan, dalam pandangan baru kewenangan ada di bumi, yang telah mencapai status mutlak. Status ini mernjadi kewenangan mutlak. Pemerintah, aparatus negara, undang-undang pertanahan menjadi ke-semau-gue-an mutlak perilaku manusia.

Hobbes mencela kemungkinan pengaruh spiritual “dan hal-hal lain yang berfungsi mengurangi ketergantungan subjek pada kekuasaan memerintah negara mereka.” Sehingga alih-alih menjadi hamba sebuah tatanan universal yang penuh kebaikan manusia direduksi dengan identifikasi sebagai subjek kewenangan terbatas waktu yang didikte oleh tempat dia hidup yang mutlak hanya berdasar dugaan kuat.

(bersambung, silahkan lihat dibuku Heidegger untuk Muslim, sisi gelap renaisans)

Explore posts in the same categories: Here There and Everywhere

Comment:

You must be logged in to post a comment.